oleh

Bandung Ketuk Tiluan Hadirkan Seribu Orang, Jawab Tantangan #Jakartacokekan

-Nasional-1.427 views

Bisnis Metro, BANDUNG – Warga Kota Bandung menjawab tantangan #JakartaCokekan yang dibawakan 300 orang penari di ajang “Seberapa Indonesianya Kamu?”. Mengenakan kebaya dan kain sinjang lebih dari seribu orang wanita berbagai tingkatan usia dipimpin penari senior Ine Arini menari Ketuk Tilu bersama-sama di pelataran Gedung Sate Bandung, Minggu, 1 September 2019.

“Sungguh sangat luar biasa apresiasi yang ditunjukan oleh warga Kota Bandung dan sejumlah perwakilan dari kabupaten dan kota di Jawa Barat. Hingga Jumat (30/8/2019) yang teregsitrasi sudah mencapai 600 orang untuk ambil bagian di ajang flasmob Ketuk Tilu Bandung ‘Seberapa Indonesianya Kamu?’, pada latihan terakhir Sabtu (31/8/2019) bertambah menjadi 700 orang, dan pada pelaksanaan (Minggu, 1 Sepetember 2019) ini, jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari seribu orang,” ujar Marintan Sirait, dari Komunitas Rumpun Indonesia sekaligus inisiator Ketuk Tilu Bandung.

Diungkapkan Marintan, saat menyampaikan tantangan dari komunitas Rumpun Indonesia, Martintan Sirait, #JakartaCokekan yang dibawakan 300 orang penari di ajang “Seberapa Indonesianya Kamu?” kepada pasangan seniman Heri Dim dan Ine Arini, langsung direspons. “Bahkan Kang Heri Dim dan Teh Ine, langsung menyerukan Tari Ketuk Tilu yang akan dibawakan dan akan dibantu Oos Koswara serta Deden Bulenk,” ujar Marintan.

Ditambahkannya, kegiatan menari bersama di Kota Bandung ternyata telah menarik perhatian di masyarakat luas. “Tidak hanya menarik perhatian kaum perempuan, namun juga para lelaku dari berbagai kota di Jawa Barat, kami sangat menyambut baik semua partisipasi,” imbuh Marintan.

 

Cinta persatuan

Sementara penari senior Jawa Barat Ine Arini yang juga instruktur tari Ketuk Tilu menjawab tantangan #JakartaCokekan “Seberapa Indonesianya Kamu?”, mengungkapkan bahwa keterlibatan ratusan bahkan seribu lebih warga Kota Bandung menari menunjukan bahwa Kota Bandung cinta akan persatuan dan kesatuan, kedamaian serta menolak segala bentuk diskriminasi, intoleransi dan perbedaan. “Kebersamaan hari ini menunjukan bahwa warga Bandung cinta damai, warga Bandung menolak berbagai bentuk intoleransi membedakan antar suku, agama, ras dan lainnya,” tegas Ine.

Didampingi instruktur tari, Oos KoswaraTari, ditegaskan Ine bahwa pemilihan tari Ketuk Tilu dengan alasan Ketuk Tilu  merupakan salah satu tarian pergaulan rakkyat Jawa Barat, khususnya urang Sunda. Ketuk Tilu merupakan tarian buhun (sudah tua) dan  cikal bakalnya sejumlah tarian rakyat serta tarian kreasi seperti halnya Jaipongan.

“Tarian Ketuk Tilu merupakan tarian yang sangat dinamis kaya dengan gerakan dengan dasar ilmu beladiri pencak silat. Ketuk Tilu juga salah satu bentuk kesenian kaya unsur gerak tari, tembang dan tetabuhan (gamelan), dan istilah ketuk tilu diambil dari tiga alat pengiring tarian berupa ketuk (bonang) sebagai pengiring utama dengan pola rebab diiringi dua kendang indung dan kulanter,” ujar oos Koswara menambahkan.

Diungkapkan Oos, sejarah ketuk tilu adalah dalam upacara panen padi yang bertujuan mensyukuri serta memohon keselamatan dan kesejahteraan. Nilai filosofi dari seni Ketuk Tilu adalah mengajarkan agar manusia dapat menghormati dan merawat alam yang telah dianugerahi Tuhan.

 

Kota budaya

Sementara Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Febiyani menegaskan bahwa dengan diselenggarakannya tarian kolosal flasmob Ketuk Tilu Bandung semakin memperkuat Kota Bandung sebagai Kota Budaya. “Selain itu, peristiwa hari ini menunjukan bahwa kebudayaan dapat mempersatukan perbedaan, melalui kebudayaan dapat menyingkirkan sekat-sekat perbedaan yang saat ini sedang terjadi sejumlah daerah di tanah air,” ujar Febiyani.

Lebih dari itu, menurut Febiyani, pihaknya sangat mendukung terhadap berbagai upaya di daerah untuk terus menggalakan kegiatan seni budaya yang melibatkan banyak masyarakat, terutama generasi muda. “Bahkan Kota Bandung ini seakan sudah menjadi trend sebagai kota budaya yang mampu menggelar event-event tari yang melibatkan tidak hanya ratusan penari tapi juga ribuan, seperti pada Hari Tari Sedunia, Bandung Ayo Menari, Bandung International Arts Festival dan sejumlah kegiatan lainnya,” ujar Febiyani.

Sementara Ketua INOONESIA.ID, Eva Simanjuntak yang menggagas “Seberapa Indonesianya Kamu?” menandai 74 Tahun Indonesia Merdeka menegaskan bahwa kegiatan diselenggarakan sebagai cerminan kegelisahan bersama masyarakat untuk bahu membahu melawan intoleransi demi menjaga Indonesia. “Dengan tarian bersama ini diharapkan masyatakat luatr khususnya kota Bandung menyadari kembali bahwa gerakan budaya adalah pemersatu perbedaan untuk menghargai keberagaman ekspresi dan menghargai toleransi di bumi Nusantara,” ujar Eva.

Telah dilaksanakannya #KetukTiluBandung menjadi jawaban atas tantangan #JakartaCokekan diajang “Seberapa Indonesianya Kamu?”. Bahkan kehadiran seribu lebih penari dari berbagai komunitas mengenakan kain kebaya dan sinjang sekaligus jawaban telak bagi #JakartaCokekan yang dibawakan 300 orang penari.

“Dan warga Kota Bandung yang telah menjawab ajang ‘Seberapa Indonesianya Kamu?’ menantang Kota Medan untuk menjawab tantangan. Akan kita tunggu, apakah warga Kota Medan dalam dua pekan ini akan segera memberikan jawaban, dan apa bentuk seni tari yang akan mereka bawakan sebagai jawabannya. Kita Tunggu,” ujar Eva, yang berharap kegiatan tantangan ‘Seberapa Indonesianya Kamu?’ dapat melibatkan kota besar lainnya di tanah air untuk menunjukan rasa cinta kepada tanah air sekaligus menolak berbagai bentuk intoleransi yang dapat mengganggu NKRI.***

Sumber: PR

Editor: Tha

News Feed