oleh

Berbarengan Gerak Jalan Sehat Kemerdekaan, Tim SITI Kelurahan Jombang Ciputat Melakukan Sosialisasi

Bisnis Metro.id,TANGERANG SELATAN- Peringati HUT Kemerdekaan RI Ke 75, tim Gowes Damai Comunity (GDMC) bersama warga RW 06 Kelurahan Jombang, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, menggelar kegiatan Gerak Jalan Sehat Bersama.

Kegiatan yang diisi pula dengan pencak silat dan bagi-bagi doorprize, juga diselingi sosialisasi Tim SITI Tingkat Kelurahan Jombang, dengan cara sebar brosur.

Salah satu Tokoh Pemuda, Muhamad Darid, mengatakan bahwa kegiatan diikuti sekitar 600 warga yang pelaksanaannya dengan sistem Protokol Kesehatan.dengan wajib memakai masker.

“GDMC sendiri mempunyai anggota sekitar 50 orang se Tangsel, dan maksud serta tujuan kita dengan Gerak Jalan tadi adalah untuk membangkitkan gairah masyarakat guna menghilangkan kesan perbedaan antara warga pendatang maupun warga asli sekitar,” ungkap Darid, Minggu (23/8/2020).

Imbuhnya, walau berbeda RAS, berbeda pandangan, saat momentum semangat kemerdekaan ini, persatuan tetap yang utama.

TIM SITI KELURAHAN JOMBANG, CIPUTAT KOTA TANGSEL

SITI (Sistem Detektsi dan Penanganan Dini terhadap ancaman ekstremisme kekerasan).

“Bahwa ada tiga (3) tanda- tanda kekerasan yang harus dikenali, diantaranya, pertama, Ideologi atau pemikiran. Yaitu, jika ada orang yang dianggap mengancam keamanan, maja kita harus mulai waspada. Kedua, Hubungan Sosial, ialah jika ada warga yang mengisolasi diri bahkan mungkin menyalahkan orang yang berbeda paham, bisa jadi itu tanda-tanda bahaya juga. Ketiga, Tindakan Kriminal, pengertiannya adalah jika ada orang yang melakukan aksi kebencian dan kekerasan yang menjurus ke tindakan kriminal, maka warga harus makin waspada,” ungkap Komaruddin, koordinator Tim SITI Kelurahan Jombang.

Kita tidak bisa menyimpulkan dengan satu faktor saja, harus menganalisis dari berbagai faktor, agar tidak terjebak kecurigaan tanpa alasan, bahkan penghakiman.

Jika kasus sudah jelas, maka warga bisa langsung melaporkan ke Tim Kelurahan. Sebelum membahas, tim melakukan verifikasi kasus. Setelah terverifikasi, tim pembahas akan membahas kasus.
Ada kasus yang selesai dengan verifikasi. Kasus yang selesai dilakukan pencatatan. Lalu tim pembahas akan melakukan pembahasan, maka kasus akan masuk ke tim remerdial dan akan ditangani oleh warga.

Ditahap ini, akan ada 3 alternatif (mediasi, dialog, diskusi). Dari 3 opsi itu harus didokumentasikan dalam pencatatan. Jika dalam tim pembahasan, kasus tidak dapat diselesaikan oleh warga, maka kasus dapat dirujuk kepada lembaga yang relevan dengan kasusnya, seperti Puskesmas, Polsek, dan P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak).

Semua harus dicatat, untuk dilakukan pembelajaran di masa depan.

“Dengan sistem ini, keluarga dan pemerintah dapat bekerjasama mendeteksi dan mencegah kekerasan sejak dini. Prinsip kehati-hatian kita tetap harus diterapkan agar jangan sampai warga saling curiga. Bersama masyarakat yang sigap dan SITI yang tepat, kekerasan ekstrim tak akan punya tempat,” pungkasnya. (sugeng)

News Feed