oleh

Cerita Suyadi Mantan Timses Walkot Tangsel Pasca Ikut PTSL Tahun 2018

-Megapolitan-155 views

Bisnis Metro,TANGERANG SELATAN- Seseorang mantan tim sukses Pilwalkot Tangsel tahun 2015 bernama Suyadi (54) warga Jalan Mutiara RT 04 RW 04 Kelurahan Pondok Karya Kecamatan Pondok Aren Kota Tangerang Selatan , merasa cemas dan kecewa atas ketidakjelasan surat tanahnya dengan No Hak 0622 program PTSL pada tahun 2018.

Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap atau yang biasa disebut PTSL adalah sebuah program yang berhasil dibuat oleh Pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk memberikankepastian hukum dan perlindungan hukum atas hak atas tanah yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. PTSL memberikan kesempatan bagi masyarakat yang belum mendaftarkan tanah miliknya yang berada di seluruh wilayah Republik Indonesia dalam satu wilayah desa atau kelurahan.

Awalnya, Suyadi menceritakan sangat antusias dan senang atas program Pemerintah Pusat terkait program PTSL. “Makanya saya ikuti program itu,” ungkapnya saat dikediamannya, Selasa (10/12/2019).

Dia lalu menyebut dengan dikoordinator Ketua RT setempat. Persyaratan dipenuhi semua dan proses berjalan.

Kebetulan karena saya mengajukan dua nama karena saat itu belinya bertahap dengan total kurang lebih 100 meter persegi (dua Akte Jual Beli). Dua AJB itu atas nama dirinya dan yang satu lagi atas nama isterinya (Ratna)

Ia merasa heran, kog atas nama Isterinya sudah menjadi sertifikat (proses serah terima saat kunjungan Presiden di lapangan terbang Pondok Cabe), tetapi yang atas nama dirinya malahan belum jadi.

“Saya pernah tanyakan ke Pak RT, dan jawabannya belum jadi, lalu waktu berjalan selama tiga bulan sejak menanyakan masalah itu kepada RT.

Tiba-tiba, masih penuturan Suyadi, isterinya punya rasa kekhawatiran perihal sertifikat atas namanya yang belum jadi.

Isterinya yang dalam keseharian, aktif dalam kader PKK di kelurahan Pondok Karya, juga dalam berupaya menanyakan hal itu kepada Heri (staff kelurahan Pondok Karya) saat di kantor kelurahan, mendapat jawaban bahwa atas nama Suyadi sudah jadi.

“Tetapi kata Pak Heri kepada isteri saya, barangkali buat jaminan (diagunkan) bu. Padahal saya tidak pernah berurusan dengan Bank, baik menabung maupun pinjaman (modal),” ujar Suyadi.

Dan di seluruh Indonesia saya yakin dan haqul yakin, tidak ada atas nama Suyadi (di Bank), imbuhnya.

Waktu terus berjalan tanpa jawaban yang transparan dari Kelurahan Pondok Karya. “Saya disuruh mengecek ke BPN Tangsel, sudah saya jalankan, dan informasi dari BPN sertifikat itu sudah jadi, serta sudah dilimpahkan ke kelurahan, dan anak saya kembali menanyakan kepada kelurahan, jawabannya ada di BPN Tangsel.

Dalam menuntut hak ini, Suyadi mengaku sudah merasa sangat berat dalam memperolehnya. “Saya sudah mati-matian dan bela-belain untuk segitu mas (sesuai AJBnya luas tanahnya 52 meter persegi), tetapi kenapa pihak kelurahan dalam jawaban keterangannya tidak membuat kita tenang atau adem.

Sabar menunggu akan tetapi sebagai manusia biasa, ada batasnya kan.

“Kita ingin ada kepastian jawaban. Kalau memang sertifikat itu tidak jadi, ya tolong kembalikan AJB asli saya. Sembari mengungkit, ikut program PTSL ini, rela membayar karena saking inginnya memiliki sertifikat,” katanya.

Walau informasinya waktu itu gratis yang didengarnya, karena sudah puluhan tahun ini kita tidak paham cara atau proses sertifikasi, maka karena ada program PTSL itu saking senangnya, saya rela membayar 2 nama itu sebesar 3 juta rupiah kepada Pak RT.

“Harapan saya, sertifikat itu jadi, kalau tidak jadi ya tolong kembalikan berkas AJB saya yang asli itu, titik,” tandasnya.(sugeng)

News Feed