oleh

Hari Santri Nasional Tingkat Kota Tangsel, Airin: Pesantren Layak Disebut Laboratorium Perdamaian

-Megapolitan-114 views

Bisnis Metro,TANGERANG SELATAN- Sekitar seribu orang peserta mengikuti jalannya Upacara Bersama Hari Santri Nasional Tingkat Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang dipusatkan di Yayasan Pesantren Al Amanah Al Bantani.

Mengangkat tajuk Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia, Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany bertindak selaku Pembina Upacara yang dihadiri pula jajaran Forkominda, para pengasuh pesantren yang tersebar di Tangsel dan santriwan-santriwati.

“Hari ini 22 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Santri Indonesia, penetapan tanggal 22 Oktober merujuk pada tercetusnya resolusi jihad yang berisi fatwa kewajiban berjihad demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia,” ungkap Airin saat awal sambutan acara yang berlokasi di Jalan AMD Babakan Pocis, Kelurahan Bakti Jaya, Setu Tangsel, Selasa (22/10/2019) pagi.

Resolusi jihad ini kemudian melahirkan peristiwa heroik yaitu tanggal 10 November tahun 1945 yang diperingati sebagai hari pahlawan. “Kita selalu menyelenggarakan peringatan setiap tahunnya dengan tema yang berbeda secara berurutan,” ucapnya.

Lalu berdasarkan fakta bahwa sejatinya pesantren adalah sebagai laboratorium perdamaian, Olehnya pesantren juga merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Islam ramah dan moderat, dalam beragama sikap moderat dalam beragama sangat penting bagi masyarakat yang plural dan multikultural dengan cara seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan baik serta toleransi dan keadilan dapat terwujud.

Semangat ajaran inilah yang dapat menginspirasi santri untuk berkontribusi merawat perdamaian dunia.

Kemudian Airin juga mengatakan, setidaknya ada sembilan (9) alasan dan dasar mengapa pesantren layak disebut sebagai laboratorium perdamaian.

Yang pertama, kesadaran harmoni beragama dan berbangsa, kedua metode mengaji dan mengkaji selain mendapat bimbingan teladan dan juga transfer ilmu langsung dari para kyai guru di pesantren yang diterapkan juga keterbukaan kajian yang bersumber dari berbagai kitab bahkan sampai kajian lintas mazhab yang.

Ketiga, yaitu para santri biasanya diajarkan untuk hikmah atau pengabdian, keempat, pendidikan kemandirian kerjasama dan saling membantu di kalangan santri apalagi bagi santri mondok tentunya harus saling berbagi dengan satu sama yang lainnya.

Kelima, gerakan komunitas seperti kesenian dan sastra tumbuh subur, ketujuh, merawat khasanah kearifan lokal relasi agama dan tradisi begitu kentara dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan kedelapan, prinsip maslahah kepentingan umum merupakan sesuatu yang sudah tidak bisa ditawar lagi oleh kalangan pesantren.(sugeng)

News Feed