oleh

Kisah seorang Dokter Sebagai Pahlawan Relawan Sosial Bagi Korban Bencana Alam

FKUKI – Berjalan menyusuri pelosok-pelosok daerah korban bencana alam selama 30 tahun setelah menjadi dokter adalah sebagian dari perjalan hidup Dr. Louisa, yang menceritakan tentang kisah hidupnya yang penuh dengan pengorbanan dan tantangan. Selain ke desa untuk membantu korban benca alam, tapi juga dokter yang satu ini membantu anak-anak yang mengalami gizi buruk, di kantornya Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia-Cililitan, Sabtu (9/11/2019)

Dr. Louisa yang saat ini menjabat sebagai wakil dekan 3 bidang kemahasiswaan dan juga merupakan alumni di FKUKI menceritakan kisah hidupnya. Bermula saat duduk dibangku sekolah dasar, kedua orang tua (papa-mama) memanggil saya dan adik saya menanyakan cita-cita kami berdua dan pada waktu itu adik saya menjawab jadi dokter, bisa mengobati diri sendiri (Karena saat kecil Sering sakit) banyak uang bisa keliling dunia sedangkan saya sang kakak menjawab jadi Pendeta supaya bisa melayani Tuhan keliling Indonesia, kisahnya.

Setelah dewasa Tuhan mengabulkan keinginan hati kami, Adik saya dapat berkeliling dunia dan saya sendiri berkeliling Indonesia, ungkapnya

Meskipun cita-cita kami pada awalnya diubah oleh Tuhan, Adik saya Elsye Langi MTh lulus sebagai Sarjana Theology saat ini di USA dan malah saya yang menjadi dokter dan juga sebagai dosen FKUKI Jakarta, ujarnya

Setelah 25 tahun jadi dokter Tuhan kasih bonus kuliah Di STT Jafray dan mendapat gelar MA.
Tidak terasa saya sudah 30 tahun menjadi dokter, juga sebagai Ahli Gizi Masyarakat.
Syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kesempatan lagi study S3 Program Doktor di FK UKI Jakarta dan juga adik sy Elsye Sasongko Langi saat ini di Southeastern Baptist Theological Seminary. Doctor of Education
Bersama suami Pdt DR Dody Sasongko, tambahnya

Keliling Indonesia sebagai Dokter dalam rangka menolong masyarakat korban bencana alam, sebagian besar wilayah Indonesia sudah saya kunjungi bahkan sampai keluar Negri juga dalam rangka yang sama menolong korban gempah di Nepal.

Ditengah-ditengah panggilan jiwa sebagai dokter melayani penderita para korban bencana alam tidak pernah lupa menunaikan tugas sebagai dosen Di FKUKI.Bahkan tahun ini Dalam acara Dies Natalis UKI ke 66 beliau mendapatkan penghargaan sebagai Dosen terbaik Fakultas Kedokteran UKI.

Saat ini untuk periode yang kedua beliau sebagai Wakil Dekan 3 Bidang kemahasiswaan dan alumni di FKUKI, masih dapat menyempatkan diri menolong para korban bencana Tsunami dan Likuifakasi Di Palu dan Banten.
Keinginan melayani kesehatan masyarakat korban bencana alam di seluruh Indonesia dan juga menangani anak-anak yang bermasalah status gizi buruk/stanting
adalah panggilan jiwa saya, tambahnya.
Pengalaman yang paling mendebarkan adalah saat sedang menolong korban gempah di Aceh, Lombok Dan Nepal, karena saat menolong pasien gempah datang lagi Dengan kekuatan scala Richter melebihi gempa pertama.
Di Aceh setiap Hari melayani rata2 500 korban, tidur dgn posisi duduk atau menyudut diruangan diantara puluhan Relawan, tengah malam dibangunkan dgn Kunjungan pasien YG merintih kesakitan, saat gempah susulan datang tetap melayani, bahkan dgn suami tercinta membuka pelayanan Kesehatan 28 posko Pengungsi masuk2 ke pelosok Aceh.
Di Lombok Utara, Diatas bukit tempat tinggal pengungsi, saat gempah susulan 7,1datang para pengungsi berteriak ketakutan dan saling bertabrakan, hingga mengakibatkan banyak korban luka bahkan pingsan akibat terinjak-injak dimana saat itu korban begitu banyak dan harus saya tangani sendirian, jelasnya

Di Mentawai membawa korban bencana tsunami yang patah kaki melewati lautan ditengah malam dengan perahu bout kecil, mungkin hanya pertolongan Tuhan, bisa melewati ombak yang datang saa itu

Di Nepal saat sedang menolong pengungsi, gempah datang lagi dengan kekuatan 7,4 skala richter, ketika itu terjadi sayapun hampir ikut tertimpah dengan warung makan, akhirnya kamipun dihadapkan dengan bukit-bukit yang terbelah dengan batu-batu yang sebesar rumah meluncur didepan kami. Hal serupa juga kami alami saat dikaki gunung Himalaya, di Desa Malukola, berita datang kolam es dipuncak Himalaya akan pecah dan akan terjadi banjir bandang, mendengar kabar itu kami dokter-dokter yang tergabung dari 7 negara (Indonesia Diwakili Dr Louisa dan Dr Yunita B Sitompul , FKUKI) ikut berlari kebukit bersama masyarakat sehingga kami juga termasuk sebagai pengungsi selama 3 hari 2 malam. mengakakhiri ceritanya heroiknya saat membantu korban bencana alam.

Dr. Louisa yang lahir di Minahasa, Sulawesi Utara tepatnya pada tanggal 4 November 1961, walaupun usia sudah memasuki 58 th bertekad “Selama saya masih hidup dan diberi kekuatan oleh Tuhanl saya Dan suami saya Dr Heru Mustika,Kami akan terus melayani Masyarakat” tanpa takut dengan tantangan dan bahaya yg dihadapi pungkasnya.

News Feed