oleh

Meraih Kembali Mimpi Waktu Kecil, Meski Sempat Dilupakan, Letda Pnb Dhamar Abi Ambodo: Pilot Merasuk di Jiwa Saya

-TNI Polri-296 Dilihat

Bisnismetro.id, YOGYAKARTA – “Tidak ada kesuksesan yang bisa dicapai seperti membalikkan telapak tangan. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, keuletan, kegigihan, dan kedisiplinan. Hal itu juga harus dibarengi dengan sikap pantang menyerah dan tidak cepat putus asa. Semua cita-cita dan ambisi hanya bisa direngkuh apabila kita mau terus belajar berbagai hal, di mana pun dan kepada siapa pun.” ― Chairul Tanjung.

Kalimat motivasi di atas, seolah-olah seirama dengan perjalanan sosok pemuda kelahiran Kabupaten Ponorogo (1997) dalam meraih mimpinya. Dia adalah Letda Pnb Dhamar Abi Ambodo, S. Tr (Han) yang baru saja dilantik Kepala Staf Angkatan Udara sebagai Penerbang muda TNI AU pada momen yang sangat bersejarah dalam hidupnya, Upacara Wing Day Sekolah Penerbang Angkatan Ke-99 TNI AU di Lapangan Jupiter Lanud Adisutjipto, Yogyakarta (22/4/2022).

Terlahir sebagai anak dari seorang prajurit TNI AU, Serma Suranto. Tidak mengherankan, Dhamar kecil memiliki keinginan menjadi seorang Pilot. Keinginannya tersebut juga selaras dengan profesi bapaknya, sebagai teknisi pesawat terbang (ground crew) di Skadron Pendidikan 102 (Skadik 102) Lanud Adi Sutjipto, Yogyakarta. Skadik 102 merupakan satuan pendidikan TNI AU yang menyelenggarakan pendidikan sekolah penerbang bagi perwira TNI AU/TNI. Tempat ini pulalah yang akhirnya mewujudkan cita-cita masa kecilnya, menjadi seorang Pilot.

“Ketika saya kecil, setiap orang yg bertanya kepada saya apa cita citamu, yang terlintas di pikiran saya waktu itu adalah “pilot”. Sejak saat itu, saya suka dengan kata-kata pilot dan pilot seolah-olah sangat merasuk di jiwa saya,” tutur Dhamar mengisahkan masa kecilnya.

Cita-citanya menjadi Pilot, ternyata sempat sirna setelah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, yaitu di SMPN 1 Berbah, Yogyakarta. Hal ini berawal dari hobinya yang suka bermain bola voli dan bergabung di Ganevo Volley Ball Club. Pencapaian terbaiknya di klub ini adalah mewakili Provinsi D.I Yogyakarta pada Kejuaran Nasional Bola Voli Junior. Saat itu, Dhamar dan Klubnya berhasil meraih juara ke-2. Atas prestasi tersebut pula, Dhamar diterima di salah satu SMA khusus atlet, SMAN 1 Sewon.

Untuk menunjang karir olah raganya tersebut, Dhamar disarankan oleh pelatih, agar melanjutkan studinya ke perguruan tinggi.

“Seiring berjalanya waktu saya semakin ingin menekuni olah raga ini dan terbesit keinginan untuk menjadi atlet saja dan mengubur dalam-dalam cita cita kecil saya menjadi Pilot,” kenangnya mengisahkan.

Di bangku SMA, Dhamar mendapatkan jurusan IPA. Pada masa akhir sekolah, tepatnya setelah melaksanakan Ujian Nasional (UN), SMAN 1 Sewon melakukan kunjungan ke sejumlah perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta. Kunjungan dibagi dua, jurusan IPA mengunjungi Akademi Angkatan Udara (AAU), sementara IPS mengunjungi Universitas Gajah Mada (UGM). Dhamarpun merasa kecewa kenapa dirinya tidak mengunjungi UGM.

“Saat itu saya berfikir kenapa saya malah berkunjung ke AAU bukan ke UGM,” tutur Dhamar.

Rasa kecewanya mulai terobati dan terlupakan, saat diri dan teman-temannya disambut hangat oleh Taruna-Taruni AAU. Para siswa SMAN 1 Sewon pun larut mendengarkan cerita Taruna AAU tentang kehidupan Taruna sehari-hari.

“Saya dan teman-teman SMA mendapat penjelasan dari Kakak – kakak Taruna AAU, mereka menceritakan kegiatan sehari-hari, mulai dari bangun hingga istirahat malam. Hati kecil saya berkata, wah enak sekali kakak Taruna ini, dengan pakaian yang keren, kegiatan yang sangat seru, kemudian setelah lulus menjadi sarjana dan biaya pendidikan ditanggung sepenuhnya oleh negara,” ulas Dhamar mengisahkan.

Sejak kunjungan tersebut, Dhamar kembali berkeinginan, meraih mimpi sewaktu lecil yang sudah dilupakan. Hal ini disampaikannya kepada kedua orang tuanya

“Yah, mah.. saya pengen mendaftar Karbol” kata Dhamar kepada kedua orang tuanya saat itu (Karbol adalah sebutan bagi Taruna AAU).

“Kamu mimpi apa dek, kok tiba-tiba berubah seperti itu,” sahut orang tua Dhamar kaget, mendengar keinginan anaknya mau masuk Taruna AAU.

Dengan semangat tinggi, Dhamar mulai melangkah untuk menggapai keinginan masa kecilnya dulu, menjadi pilot pesawat terbang. Dhamar pun mengikuti setiap tahapan seleksi dengan sebaik-baiknya. Meskipun demikian, terbesit juga kekuatiran dalam dirinya, apakah dia bisa lulus dan diterima menjadi Taruna AAU, karena proses seleksi begitu ketat dan diikuti oleh ribuan calon dari seluruh Indonesia. Kekuatiran Dhamar ternyata terbukti, dirinya dinyatakan tidak lulus seleksi.

“Tahun 2015 saya memberanikan diri untuk mendaftar Karbol, dan ternyata benar saya tidak dapat bersaing dengan rekan-rekan yang lain. Pada saat itu saya sangat kecewa, karena saya menjadi pengangguran, tidak kuliah dan juga tidak mempunyai pekerjaan,” ungkap Dhamar.

Melihat anaknya merasa kecewa karena gagal masuk Karbol, orang tuanya menyarankan, agar Dhamar kuliah saja, sambil menunggu pendaftaran Karbol selanjutnya. Namun, Dhamar berpemikiran lain, dirinya akan tetap fokus mempersiapkan diri, untuk pendaftaran Karbol tahun berikutnya.

“Saya menolak tawaran tersebut. Menurut saya, apabila saya kuliah, maka keinginan dan tekad saya untuk menjadi Karbol akan menurun,” ujarnya.

Satu tahun menjelang pendaftaran penerimaan Karbol, diisi dengan berbagai aktifitas untuk menunjang keberhasilan saat mengikuti seleksi nantinya. pada masa itu, Dhamar mempersiapkan dirinya dengan penuh semangat, kerja keras, keuletan, kegigihan, dan kedisiplinan, serra pantang menyerah. Dhamar akhirnya diterima sebagai Taruna AAU pada tahun 2016. Empat tahun dilaluinya menjadi Taruna AAU, dengan dinamika kehidupan pendidikan militer yang sarat kedisiplinan dan hirarkis senior-junior.

Pada tahun keempat di AAU, saatnya Dhamar memasuki babak baru dan paling menentukan, apakah dirinya mampu mewujudkan keinginan masa kecil dulu, menjadi Pilot, yaitu pada saat mengikuti seleksi siswa Sekolah Penerbang (Sekbang).

“Beberapa dari kami terpanggil mengikuti tes masuk sekbang. Rasanya saya tidak menyangka nama saya terpanggil mengikuti seleksi. Kemudian saya mengikuti beberapa tes, mulai dari psikologi, kesehatan dan sampai di tahap akhir. Kembali saya tidak menyangka ketika pengumuman korp ternyata saya masuk Sekbang,” katanya

Dhamar pun menjalani pendidikan Sekbang selama 18 bulan dengan penuh semangat dan mencurahkan seluruh potensi diri dalam menunjang pendidikan yang sudah diidam-idamkan semejak kecil dahulunya. “Do the best and Never give up,” terangnya menyampaikan motto yang selalu mengiringi perjuangan hidupnya.

Selama Sekbang, hal unik dan yang tidak akan pernah terlupakan selama hidupnya adalah, pertemuan dirinya dengan sang ayah, Serma Suranto di Skadik 102. Sang anak merupakan siswa Sekbang berpangkat perwira, sementara sang ayah merupakan anggota teknisi pesawat yang bertugas menyiapkan pesawat untuk para siswa Sekbang, termasuk untuk sang anaknya.

“Setiap saya melaksanakan penerbangan ayah selalu menyiapkan pesawat dan saya tidak menyangka, menjalani Sekbang yang di dalamnya ada ayah saya sebagai ground crew pesawat KT-1B,” ujarnya.

Setelah melaksanakan latihan terbang, Dhamar selalu mencium kedua tangan sang ayah sebagai wujud bakti anak kepada orang tuanya. “Saya tidak menyangka, saya bisa melampaui ayah saya. Saya sangat hormat, respect dan mengagumi beliau, sehingga saya bisa seperti saat ini. Beliau orang tua yang berhasil dalam mendidik anak dan saya sangat bangga memiliki orang tua luar biasa seperti beliau,” ungkapnya.

Setelah dilantik menjadi penerbang muda TNI AU, selanjutnya Dhamar akan memulai kariernya di Skadron Udara 17 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Perwira muda dengan tinggi badan 177 cm ini akan menjalani pendidikan transisi menggunakan pesawat angkut VIP dan VVIP. Tidak lupa Dhamar memohon doa restu kepada kedua orang tuanya. Baginya, doa kedua orang tua merupakan modal dasar mengarungi kehidupan, termasuk menghadapi tantangan tugas ke depan sebagai perwira penerbang TNI AU.

“Pilot seolah-olah sangat merasuk di jiwa saya, dan saat ini impian tersebut telah terwujud berkat doa kedua orang tua,” pungkasny(***)