oleh

Rizal Bawazier: Pengaturan sampah TPA Cipeucang harus dengan teknologi canggih

-Megapolitan-322 views

Bisnis Metro.id,TANGERANG SELATAN- Gunungan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Kota Tangsel, mengalami longsor ke Kali Cisadane akibat jebolnya Sheetfile (tembok pembatas) sepanjang 100 meter.

Informasi disebutkan bahwa kejadian pada hari Jumat 22 Mei 2020 sekitar pukul 03.00 Wib dinihari, membuat aliran Kali Cisadane mengarah ke Kota Tangerang terhambat dan menyisahkan sepertiganya yang mengalir.

Terlihat puluhan armada pengangkut besar dan kecil yang penuh muatan sampah memarkir kendaraanya, karena situasi yang tidak memungkinkan untuk melakukan pembuangan.

Hal itu menuai tanggapan masyarakat maupun bakal calon Walikota/wakil Walikota Pikada Tangsel 2020.

Ade Yunus, aktivis Yayasan Peduli Lingkungan Hidup (Yapelhi), melalui mengatakan, bahwa sampah Cipeucang yang longsor tersebut diduga merupakan akibat kelalaian dan salah pengelolaan.

Kejadian ini pun ibarat bom waktu dan tempatnya tidak memenuhi syarat. Seharusnya, semenjak dua tahun yang lalu TPA Cipeucang agar segera ditutup karena kondisinya sangat mengkhawatirkan.

“Semenjak dua tahun lalu berjalan, TPA itu harusnya direvitalisasi lagi ke keadaan semula,” ujarnya.

Sementara di lokasi yang berbeda, tanggapan Rizal Bawazier, menuturkan bahwa musibah longsornya TPA Cipeucang akibat pengaturan sampahnya tidak dibarengi dengan teknologi canggih.

“Seharusnya dengan teknologi yang canggih, tidak bisa tidak, dan jangan berpikir panjang mengenai biayanya yang tinggi,” ucapnya.

Ketidakmampuan Kota Tangsel dalam penyediaan lahan sudah tidak mampu. “Lahannya sudah emas semua, karena kita ini sudah kota, bukan kabupaten. Beda dengan Kabupaten Bogor yang masih mempunyai lahan-lahan tanah yang luas” imbuhnya.

Ia pun juga mencontohkan, bahwa sampah yang dikumpulkan oleh petugas kebersihan, kemudian kesejahteraannya diberi lebih.

“Ya itu, petugas kebersihan supaya lebih aktif dan cepat mengangkut sampah-sampah, lalu setiap malam harus mengangkut sampah, lalu sampah diangkut ke kawasan (TPS3 R atau TPA).

Selanjutnya kawasan tersebut harus berbentuk bangunan-bangunan dengan cerobong asap seperti pabrik pembakaran sampah, dan semuanya dibakar dalam satu bangunan dengan suhu 1.000 derajat celcius atau lebih selama 7 hari dalam seminggu atau bisa dikatakan terus dilakukan tanpa henti,” sarannya.

Kemudiaan, sampah yang dibakar berubah menjadi panas dan energi terbarukan yang menghidupkan, berupa listrik atau batubara,

“Tinggal pilih teknologinya mau jadi apa hasil akhirnya. Hasil uap pembakaran sampah akan disaring kembali juga dengan teknologi canggih lalu akan dikeluarkan sebagai udara bersih yang bisa dihirup oleh masyarakat sekitar,” katanya..

Rizal Bawazier menyarankan pula Alternatif lain bisa dengan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST 3R) bila dikelola dengan teknologi canggih juga. Salah satu contohnya dengan Refuse Derived Fuel (tolak bahan bakar turunan) yang dinilai rasa biayanya.

“Ya, tidak akan lebih dari Rp 100 milyar, tidak harus sampai trilyunan. Asal cepat dilakukan dan niat dijalankan pasti tidak sulit. Kita juga bisa kerjasama dengan Pemda Kabupaten Tangerang atau Kabupaten Bogor apabila kurang lahannya, saya yakin pada mau demi kepentingan bersama, kan ada hasilnya berupa listrik atau batubara,” katanya.

Jangan berpikir terlalu lama kalau urusannya sampah dan juga banjir ya, karena keduanya masalah lingkungan atau alam yang tidak bisa dihindarkan.

“Penumpukan sampah akan menimbulkan masalah sosial di masyarakat karena baunya,” tandasnya.(sugeng)

News Feed