oleh

Seminar Nasional Pasis Sekkau A-106, Kasau: Diplomasi Pertahanan Diperlukan Dalam Upaya Mempertahankan Stabilitas Keamanan Negara dan Kawasan Regional

-Nasional-5.558 views

Bisnis Metro, JAKARTA – Perwira Siswa Sekkau angkatan ke-106, melaksanakan Seminar Nasional yang dilaksanakan di Gedung Pramanasala Ksatrian Sekkau, Jakarta, Rabu (6/11). Seminar Nasional Pasis Sekkau Angkatan ke-106 tersebut bertajuk “ Penguatan Diplomasi Pertahanan Dalam Rangka Mendukung Kepentingan Nasional Indonesia”

Diperlukan berbagai upaya dan langkah antisipatif, untuk mempertahankan stabilitas keamanan negara dan kawasan regional, agar tidak terganggu dengan kedinamisan dan kompleksnya perubahan lingkungan strategis.

Tema yang dipilih selalu menarik dan sesuai dengan perkembangan yang kita hadapi. Pada seminar sebelumnya, Sekkau telah mengambil topik tentang Cyber Warfare, kemudian disusul dengan topik Renewable Energy, dan kali ini tentang Diplomasi Pertahanan.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan, adalah melalui Diplomasi Pertahanan termasuk berbagai upaya untuk memperkuat diplomasi tersebut.

Saya sangat mengapresiasi dan menyambut baik kegiatan seminar yang dilaksanakan oleh Perwira Siswa Sekkau Angkatan ke-106, dan saya berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut, dengan tema yang terus diperbaharui dan sesuai dengan perkembangan lingkungan strategis yang kita hadapi.

Hal tetsebut dikatakan Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E., M.M. dalam sambutannya yang dibacakan oleh Dankodiklatau Marsekal Muda TNI Tatang Hermansyah, S.E.,M.M. dalam acara, Seminar Nasional Pasis Sekkau Angkatan ke-106, bertajuk “Penguatan Diplomasi Pertahanan Untuk Mendukung Kepentingan Nasional Indonesia”. di Gedung Pramanasala Ksatrian Sekkau, Halim Perdanakusuma Jakarta, Selasa (6/11/2019).

Menurut Kasau, Diplomasi pertahanan, merupakan upaya konstruktif untuk menghindari timbulnya konflik, serta sebagai upaya untuk memuluskan jalan menuju tercapainya kepentingan nasional, baik untuk kemakmuran bangsa, keamanan nasional, dan tegaknya kedaulatan negara,” tambahnya.

Kita harus menyadari lanjut Kasau bahwa, bentuk diplomasi pertahanan di era modern, khususnya sejak 1990an, telah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan, jika dibandingkan dengan era-era sebelumnya. Kita memahami peran diplomasi militer yang selalu identik dengan pembangunan aliansi kekuatan tempur dan penggunaan ancaman kekuatan bersenjata.

Namun di era modern seperti sekarang ini ucao Kasau, arah diplomasi pertahanan, telah bertransformasi pada arah diskusi, dialog kesepakatan, latihan bersama, pengiriman pasukan perdamaian, dan pelaksanaan berbagai konferensi, yang bertujuan sebagai confidence building measure antara berbagai negara di kawasan regional dan global, serta untuk mencegah terjadinya konflik di masa damai,” lanjutnya.

Dikatakannya, untuk mencegah terjadinya konflik antar negara, diplomasi pertahanan dapat dijalankan melalui beberapa cara yang lebih luas, seperti, Kerja sama militer sebagai fungsi politik untuk membangun saling kepercayaan dan mengatasi berbagai perbedaan antar negara yang berdekatan.

Selaun itu diplomasi pertahanan juga dapat dikembangkan sebagai sebuah upaya untuk menyamakan persepsi pada tujuan yang sama.

“Kesepahaman akan tujuan yang sama dari dua atau banyak negara, tentunya akan meningkatkan rasa saling membutuhkan dan mencegah timbulnya konflik,” ucapnya.

Kasau menegaskan, kita tidak boleh meremehkan berbagai upaya confidence building measure, karena upaya diplomasi pertahanan sekecil apa pun, memiliki dampak yang signifikan dalam memastikan tercapainya tujuan nasional Indonesia, yaitu untuk ikut menjaga perdamaian dunia.

Untuk itu, upaya diplomasi pertahanan yang kita lakukan, baik pada high level committee di tingkat kementerian dan Mabes TNI terus dilaksanakan dengan serius,” pungkasnya.

Sementara itu Direktur Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata, Kementerian Luar Negeri, Grata Endah Werdaningtyas mengatakan, personel TNI tidak hanya perlu mendapatkan pelatihan dasar, tetapi juga penting untuk melatih soft-skills lain, seperti, Bahasa asing, strategi komunikasi dan community engagement. Tidak hanya itu personel TNI pun perlu juga mendapatkan pelatihan tentang, negosiasi dan mediasi, serta pengetahuan taktis, operasional dan pengumpulan informasi yang strategis di lapangan.

Selain itu lanjutnya, profesionalisme dan kode etik, dengan orientasi pada performance serta menjunjung tinggi HAM. serta peran yang lebih besar bagi personel perempuan. “Ini adalah penting sejalan dengan semangat dan tuntutan internasional saat ini, dan tidak hanya gesture semata,” jelasnya.

Seminar ini menghadirkan tiga orang narasumber yakni Prof. Dr. Makarim Wibisono, MA-IS, MA, Dr. Ian Montratama. serta Dirjen Strategi Pertahanan, Kemhan RI Mayjen TNI Rizerius Eko HS., S.E., S.AP., M.Si., yang diwakili Kolonel Adm Agung, SFI., M.Si.

Diharapkan hasil seminar ini dapat memberikan kontribusi positif dan pemikiran kepada pimpinan guna membekali para Pasis Sekkau serta peserta seminar dalam menghadapi perkembangan lingkungan strategis yang berkembang saat ini. (Yuni)

News Feed