oleh

Siswi Ini Hidup Memprihatinkan, Butuh Perhatian Pemkot Tangsel

-Megapolitan-60 Dilihat

Bisnis Metro,TANGERANG SELATAN- KDL (15) terlihat tegar menjalani kehidupannya bersama kedua orang tua serta 3 kakak kandungnya di rumah bedeng semi permanen yang terletak di Kampung Ciater, Rawa Mekar Jaya, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel).

KDL yang merupakan anak bungsu itu masih menempuh pendidikan di bangku kelas 3, SMPN 11 Rawa Buntu. Kehidupannya cukup prihatin, maklum ayahnya hanyalah seorang sekuriti komplek dengan gaji Rp700 ribu per bulan.

Nasib KDL lebih baik ketimbang kakak kandungnya yang putus sekolah, bahkan ada kakaknya yang sama sekali belum pernah merasakan pendidikan di sekolah. Latar belakang ekonomi memaksa keluarga ini harus lebih sibuk mencari sesuap nasi ketimbang urusan lain.

Kedua orang tuanya, Kartajaya (57) dan Asni (45), bertekad akan menuntaskan pendidikan KDL hingga berlanjut ke tingkat SLTA. Segala upaya dilakukan agar putri satu-satunya itu bisa terus sekolah. Meskipun himpitan ekonomi kian berat dihadapi.

“Dulu sebenarnya kita ngontrak petakan, per bulannya 600 ribu. Tapi karena sering menunggak terus sampai beberapa bulan, akhirnya saya usul ke Pak RT untuk bangun bedeng di lahan milik pengembang di sini. Selama belum dibangun sama pengembang ya mudah-mudahan masih bisa saya tempati dulu. Jadi saya nggak ngontrak lagi,” tutur Karta Jaya, Kamis (22/9/2022).

Usul untuk membangun bedeng sementara itu adalah pilihan terakhir bagi Karta, sebab dia tak sanggup lagi jika harus membayar uang sewa kontrakan tiap bulan. Apalagi seunit motor yang dimiliki telah digadaikan guna menutupi sisa tunggakan pada waktu lalu.

“Waktu itu nunggak sampai berbulan-bulan totalnya sampai 3 jutaan, ditagih terus, jadi mau nggak mau motor digadein buat bayar sisanya. Habis itu, saya bangun bedeng ini, pake puing-puing nyari di bawah. Sekarang udah 2 bulanan tinggal di sini,” ucapnya.

Bedeng itu terletak di batas dinding pembatas milik salah satu pengembang, persis di bawah sebuah pohon besar. Bangunan rumahnya pun dibuat tambal sulam dengan bekas papan, kayu, seng, dan bambu yang tak terpakai. Secara umum bisa dibilang jauh dari kata layak huni.

Yang memrihatinkannya lagi, bedeng itu tak memiliki akses jaringan listrik dan air sumur. KDL kerap mengeluhkan rasa sakit pada bagian mata akibat belajar hanya diterangi lilin atau sinar lampu handphone. Jika malam tiba, suasana rumah dan sekelilingnya praktis gelap gulita.

‘Kalau belajar pakai lilin aja, atau diterangin pakai lampu HP. Kalau lilinnya udah abis, ya numpang belajarnya ke rumah teman,” ungkap KDL.

Guna memenuhi kebutuhan air untuk mandi, mencuci, dan memasak, keluarga ini harus turun ke sumber air yang berada di sudut perumahan di balik tembok pembatas. Jaraknya lumayan jauh sekira 200-300 meter dengan jalan menurun tajam. Air itu ditempatkan dalam ember atau galon, lalu dipanggul ke dalam bedeng.

“Kalau untuk mandi dia (KDL), tiap pagi saya yang manggul dari bawah ke atas (rumah). Agak lumayan berat, karena kan harus turun dulu ke perumahan di bawah. Kalau bapak nya udah nggak kuat manggul, paling sanggup 1 ember aja, jadi sisanya saya yang ngambil,” terang sang ibu mendampingi.

Meski telah memiliki KTP Tangsel, keluarga ini menyebut baru sekali menerima bantuan sosial dari program pemerintah. Begitu pula dengan KDL yang belum terdaftar sebagai penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP).

“Belum ada bantuan lagi, dulu pernah sekali ada bantuan pemerintah. Kalau dia (KDL) belum ada kartu-kartu (KIP) bantuan begitu,” imbuhnya.

Secara akademis, sebenarnya KDL termasuk rata-rata siswi yang punya nilai cukup baik di sekolah. Meskipun banyak keterbatasan yang membuatnya tak maksimal untuk belajar di rumah.

“Prestasinya cukup lumayan (bagus),” jelas Kepsek SMPN 11, Yanto, ditemui terpisah.(bli/sg)