oleh

Tempe dan Tahu Beredar Kembali Tapi Harga Naik

-Ekonomi-69 views

Bisnis Metro,TANGERANG SELATAN- Makanan olahan bernama Tempe dan Tahu, hari ini Senin (4/1/2021) beredar kembali di pasar setelah sempat menghilang selama tiga hari akibat mogok para perajin. Namun harganya mengalami kenaikan sekitar Rp 1000 rupiah per potong ukuran 500 gram.

Lapak pedagang tempe di Pasar Tradisional Ciputat ramai, banyak yang menyampaikan jika tiga hari berburu tempe tidak ada. Wanti salah satu pembeli tinggal di Kedaung menuturkan, sempat binggung cari tempe dan tahu susahnya ampun. Dirinya tak mengira jika kelangkaan makanan rakyat itu tengah mengalami kendala.“Tempenya bu, tiga,”ujar Wanti kepada pedagang.

Lanjut wanita berkerudung itu, makanan tempe menjadi menu sehari-hari karena murah serta bergizi. Meski harganya naik, bagi ia tidak masalah yang penting masih kejangkau. Terkecuali naiknya tidak wajar sampai terbilang mahal. “Biasanya saya beli Rp 5 ribu satu potong, tadi naik jadi Rp 6 ribu naik Rp1000,” tambah ia.

Alfi (23) pedagang tempe yang telah berjualan selama dua tahun ini, mengatakan setelah mengikuti kesepakatan bersama komunitas perajin tempe dan tahun secara nasional, mulai memproduksi dan berjualan di pasar. Meski kondisi ini tak sepenuhnya melegakan hati, alias terpaksa ketimbang tidak ada pemasukan.

“Hari ini mulai berjualan sekalipun pelanggan banyak yang komplain karena harganya naik Rp 1000 rupiah dengan ukuran kurang lebih 500 gram. Langkah ini kami dari komunitas diambil untuk bersama-sama mencari untung jangan sampai Cuma capai tidak ada hasil selama berjualan,” ujarnya.

Harga kedelai impor mengalami kenaikan sejak April 2020 sebelumnya per kwintal Rp 700 ribu menjadi Rp 830 ribu. Awal Januari 2021 naik menjadi Rp 1 juta per kwintal. Sontak mengagetkan para perajin tempe dan tahu. Ini kesannya sangat mengikat leher perajin karena harga jual di pasaran terbilang cukup murah dan terjangkau.

“Kami perajin meminta harga kembali diturunkan, tak ingin ada subsidi atau lain-lain. Pemda juga jangan membiarkan wajib membantu perajin dengan menekan harga di pasaran,” harap ia.

Berdasarkan informasi dari komunitas perajin tempe dan tahu bakal mogok selama sepaken apabila harga tak kunjung turun. selama ini para perajin seperti tak kuasa dalam berbagai kondisi. Pasalnya kedelai dipasok oleh pemasok, wajar mereka tak banyak pilihan mencari bahan baku di tempat lain.

“Kita kaya burung di kandang tidak bisa beli di luar. Kita dipasok oleh tengkulak empat hari sekali sebanyak empat ton. Per hari kami produksi satu kwintal dua puluh kilogram,” bebernya.

Selama mogok, dari demi sebagai aksi solidaritas, sempat ada aksi sweping bagi yang kedapatan berjualan dan produksi distop sementara. Dikabarkan di luar Tangsel banyak yang kedapatan berjualan dan produksi membuat geram setelah disepakati untuk aksi mogok. “Di Tangsel tidak ada tapi di luar banyak yang akhirnya ketahuan oleh komuntas sehingga distop,” imbuhnya.

Demikian harga tahu, satu papan potongan kecil isi 100 potong seharga Rp 45 ribu dijual Rp 6 ribu isi 12 biji. Sedangkan potongan besar per papan sebanyak 80 biji dengan harga Rp 53 ribu di jual Rp 8 ribu per kantong isi isi Rp 10 ribu, sangat minim sekali. Ini yang memberatkan oleh pedagang. (*)

News Feed