oleh

Tiga Poin Penting PAPPRI saat Konsolidasi bersama DPC- DPC Kab/Kota se Banten

Bisnis Metro,TANGERANG SELATAN- Kepengurusan DPD PAPPRI (Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Artis Penyanyi Pencipta lagu dan Penata musik rekaman) Banten melakukan konsolidasi bersama seluruh DPC se Provinsi Banten. Hal ini diselenggarakan karena vacuum sekian lama, akibat pandemi corona.

“Baru pada hari ini, kita bisa berkumpul, untuk membahas kegiatan- kegiatan yang belum terselesaikan,” ungkap Ketua DPD PAPPRI Banten, Tubagus Imamudin, pada saat di lokasi acara, di rumah makan Bukit Pelayangan, Cilenggang, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Jumat (9/10/2020) malam.

Diantara agenda kegiatan tersebut, Imam menyebut, yang pertama adalah Grand Final Hari Musik Nasional. Ini perlu dilanjutkan karena sudah adanya finalis- finalis, mulai dari dangdut, pop ala bintang, lalu cipta lagu musik anak. “Ini kan belum dilakukan finalisasi,” ujarnya.

Lalu yang kedua, perlu dilakukan re-strukturisasi kepengurusan DPD. “ini karena ada beberapa personal yang tidak aktif di PAPPRI, dan akan kita rampingkan, agar lebih efisien, pokok fungsinya jelas. Jadi tidak perlu banyak orang,” ucap Imam.

Kemudian yang ketiga, kegiatan hari ini juga terkait Kartu Tanda Anggota (KTA), semua akan dilakukan pendaftarannya di setiap zona DPC PAPPRI yang ada di kabupaten/kota se Banten. “Jadi untuk DPD hanya memfasilatasi saja, melaporkan registrasi keanggotaan yang ada di seluruh wilayah binaan DPD PAPPRI se Banten,” tuturnya.

Secara keseluruhan jumlah anggota PAPPRI Banten, disebut Imam, yang terdaftar seitar 200- 300 orang tergabung dalam kepengurusan DPC maupun DPD.

“Tapi kalau untuk keanggotaannya, karena PAPPRI Banten baru berjalan hampir 2 tahun, dan ini ibaratnya, kita mau kita membuka kran keanggotaannya. Jadi kedepan kita akan lebih tahu nanti membuat pemilahan.

Dikarenakan banyaknya genre, seperti di Banten ada juga Gambus, yang disini juga telah masuk LASQI, imbuhnya.

Sambungnya lagi, pemilahan ini agar dapat diketahui talenta para musisi, kemudian bisa dikembangkan kemampuannya. “Baik segi vocal untuk penyanyinya, terus daya cipta lagunya, dan juga sebagai arranger atau penata musik. Dan ketiga ini diharapkan punya kemampuan semua,” katanya.

Disisi lain, pada kesempatan ini Imam juga menegaskan, adalah sebuah hal yang naif bagi PAPPRI, ketika para pekerja seni dibatasi secara total.

Padahal kalau ada aturan regulasi yang dibuat agar para pekerja seni bisa berperan sebagaimana biasa, tapi dengan protokol kesehatan yang memang diatur pemerintah. “Ini akan lebih efektif, tetap berjalan di hotel, kafe/ restoran di dalam ruangan, karena musiknya yang tidak terlalu over mendatangkan kerumunan,” cetusnya.

Atas keluhan itu semua, PAPPRI akan berkirim surat kepada stakeholder setempat masing- masing wilayah. Minimal sebuah opsi dan solusi, agar pekerja seni, bisa bangkit kembali. “Tangsel sendiri melalui komunitas yang kita bina, yaitu FKPS (Forum Komunikasi Pekerja Seni) sudah mengadu ke DPRD, jawabannya hanya menunggu Perwal, yang sampai sekarang belum kelihatan,” ucap Imam.

Dan ini jangan sampai menyakiti para pekerja seni, karena mereka juga sama-sama butuh untuk mempertahankan hidup demi kewajiban keluarga.

“Lihat saja ketika ada hajatan, ngga boleh rame-rame, otomatis imbasnya ke semua pekerja seni, mulai dari tukang sound, panggung, tukang make up, bukan hanya pemain, dan penyanyi,” tukasnya. (sugeng)

News Feed