Cak Imin: Inovasi dan Kreativitas Sangat penting dalam menghadapi era teknologi informasi 

Bisnismetro.id, JAKARTA  – Wakil Ketua DPR RI, Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, mengatakan, di era digital ini semua orang dan negara memiliki kesempatan yang sama dalam memenangkan perempuran. Pasalnya, kata dia, inovasi dan kreativitas lah yang paling penting dalam menghadapi era teknologi informasi ini.

Cak Imin menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber dalam Webinar Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika

Kemkominfo RI bekerja sama dengan Komisi I DPR RI dengan tema “Kebutuhan Sumber Daya Digital Indonesia”, Sabtu (6/8/2022).

“Kita saat ini berada pada level tidak lagi ada di mana atau siapa karena yang dibutuhkan saat ini adalah kreativitas dan inovasi,” kata Cak Imin.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu melanjutkan, saat ini teknologi begitu cepat mengalami kemajuan di luar bayangan siapapun. Bahkan, menurutnya, saat ini sudah masuk level dunia maya yang nyata dan dunia nyata yang maya atau metaverse.

“Kita akan masuk ke wilayah seolah-olah kita semua ada dalam sebuah wilayah padahal itu dunia maya. Ini akan berakibat pada interaksi ekonomi, cara kerja ekonomi yang produktif atau tidak produktif sama sekali,” ujarnya.

Menurut dia, dunia digital ini didikte oleh para produsen teknologi. Sementara, kita adalah konsumen dari teknologi yang dicicil.

“Contohnya kita ponsel pintar itu teknologinya dicicil sehingga kita terus menerus didikte untuk membeli produknya dengan teknologi yang baru terus menerus,” lanjut dia.

Untuk itu, menurut Cak Imin, negara ini harus bisa mengejar ketertinggalan teknologi dari segala sektor. Menurutnya, pemerintah harus benar-benar berani berinvestasi guna memanfaatkan kemajuan teknologi ini.

“Mau tidak mau kalau kita tidak ingin ketinggalan. Kreativitas dan inovasi bergantung kita semua. Ayo kita bangun bersama-sama SDM ini,” tegasnya.

Narasumber lainnya, pakar hukum dan akademisi, Auliya Khasanofa, mengungkapkan, persoalan sumber daya digital memang menjadi perhatian serius dari Presiden Joko Widodo. Dan ini, kata dia, direspons sangat baik oleh Kemkominfo dengan menyiapkan SDM talenta digital ini.

“Kita punya Pancasila. Kita bersyukur memiliki ideologi yang menjadi petunjuk dari berbagai permasalahan nasional untuk memandu kita semua menghadapi kemajuan teknologi ini,” kata Auliya.

Dia menjelaskan, Pancasila yang dari kultur ke-Indonesiaan banyak dikaitkan dengan etika. Karena, menurutnya, peraturan undang-undang tanpa menggunakan etika maka akan menjadi hukum yang kering dan tidak memiliki nilai-nilai keadilan.

“Manusia tanpa etika juga berpotensi merusak hukum itu sendiri,” ujarnya.

Auliya melanjutkan, saat ini juga dikenal dengan era disrupsi yang merupakan era kemudahan. Masyarakat, menurutnya, saat ini juga mengalami Cultur shock akibat pandemi Covid-19.

“Kekuatan digital kita menarik. Ini membuat pemerintah bertekad untuk menjadi kekuatan ekonomi digital terbasar di Asia Tenggara. Indonesia menjadi tempat yang menjanjikan bagi pasar digital. Makanya kita butuh literasi digital atau keterampilan menggunakan alat-alat digital dan bertanggung jawab. Ini untuk menangkal informasi-informasi negatif,” ujarnya.

Sementara, pegiat literasi dan akademisi, Arif Hidayat, mengatakan, kemajuan teknologi hari ini harus bisa diadaptasi dan diantisipasi dampak negatifnya. Menurutnya, era disrupsi membuat kita ada di dua sisi yang berbeda, yaitu ada masyarakat dan ada pasar.

“Ada tiga hal yang penting dalam era digital, yaitu infrastruktur digital, kebijakan hukum digital, dan talenta digital,” uja.

Dengan kemajuan teknologi informasi ini, kata Arif, maka kita harus masuk adigum bahwa yang paling penting dalam sebuah bangsa adalah manusianya.

“Teknologi dan pengetahuan itu dipakai untuk memenuhi hasrat dan kebutuhan masunia, bukan kemanusiaan,” tandasnya.(***)