Bisnismetro.id, JAKARTA – Mengusung genre komedi horor, film ini menawarkan kisah yang dekat dengan realita masyarakat, terutama tentang pilihan-pilihan nekat yang diambil saat berada di kondisi terdesak, yang bukannya membawa jalan keluar, justru berujung pada situasi yang semakin rumit.
Warung Pocong bercerita tentang tiga pemuda, Kartono, Agus, dan Makmur, yang tengah terjebak dalam berbagai masalah keuangan. Di tengah kondisi terdesak, mereka menerima tawaran pekerjaan dari seorang pria tua untuk menjaga sebuah warung. Namun, pekerjaan tersebut justru membawa mereka pada teror mistis yang tak terduga.
Melalui premis tersebut, Warung Pocong menghadirkan cerita tentang pilihan-pilihan nekat yang sering diambil saat berada di titik terdesak. Harapan untuk mendapatkan jalan keluar dengan cepat berubah menjadi masalah yang semakin besar, ketika keputusan yang diambil tanpa pertimbangan justru jadi bumerang bagi mereka sendiri.
Dibungkus dengan pendekatan komedi dan horor, film ini menghadirkan keseimbangan antara ketegangan dan humor yang dekat dengan keseharian. Situasi-situasi yang dialami oleh para karakter terasa akrab, mulai dari tekanan hidup hingga keinginan untuk segera lepas dari masalah.
Sutradara Warung Pocong, Bendolt, mengungkapkan bahwa film ini dibuat untuk bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. “Kami ingin menghadirkan film yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga menghibur. Cerita di film ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang masalah ekonomi yang sering dialami anak muda, namun dikemas dengan pendekatan yang fun,” ujarnya.
Kekuatan film ini juga terletak pada dinamika tiga karakter utamanya yang terasa dekat dengan kehidupan nyata, sehingga membuat cerita semakin relatable bagi penonton.
Salah satu pemain, Fajar Nugra, yang berperan sebagai Kartono, mengungkapkan antusiasmenya terhadap film ini. “Yang menarik dari Warung Pocong adalah ceritanya yang terasa dekat banget dengan kehidupan sehari hari. Banyak kejadian yang mungkin pernah atau sedang dialami oleh masyarakat sekarang, tapi dikemas dengan cara zt ringan dan menghibur,” jelasnya.
Selaras dengan itu, Sadana Agung juga menambahkan bahwa perpaduan komedi dan horor dalam film ini menjadi daya tarik tersendiri. “Film ini punya keseimbangan antara seram dan lucu. Jadi penonton bisa merasakan tegang, tapi di saat yang sama tetap bisa tertawa,” katanya.
Selain Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Randhika Djamil, film Warung Pocong dibintangi oleh Shareefa Daanish, Teuku Rifnu Wikana, Arla Ailani, Kiki Narendra, dan Whani Dharmawan.
Sutradara Warung Pocong, Bendolt, mengatakan film ini dirancang agar dapat dinikmati banyak kalangan. Ia menyebut tim produksi ingin menghadirkan tontonan yang bukan hanya menakutkan, tetapi juga menghibur dan relevan dengan pengalaman hidup anak muda saat ini.
“Kami ingin menghadirkan film yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga menghibur. Cerita di film ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang masalah ekonomi yang sering dialami anak muda, namun dikemas dengan pendekatan yang fun,” ujarnya.
Sinopsis Film Horor Komedi Warung Pocong
Film horor komedi Warung Pocong (tayang 9 April 2026) mengisahkan tiga pemuda Jakarta yakni Kartono (Fajar Nugra), Agus (Sadana Agung), dan Makmur (Randhika Djamil) sedang berada di titik terendah hidup karena masalah finansial. Mereka terjerat utang hingga investasi bodong.
Dalam keputusasaan, mereka ditawari pekerjaan oleh pria misterius bernama Kusno (Whani Darmawan) untuk menjaga sebuah warung di desa terpencil bernama Lali Jiwo dengan gaji sangat tinggi, Rp50 juta per bulan.
Yang menarik dari Warung Pocong adalah ceritanya yang terasa dekat banget dengan kehidupan sehari-hari. Banyak kejadian yang mungkin pernah atau sedang dialami oleh masyarakat sekarang, tapi dikemas dengan cara yang ringan dan menghibur,” katanya.
Fajar merasa memiliki kedekatan personal yang sangat kuat dengan karakter Kartono yang ia perankan. Ia menyebut karakter ini sebagai cerminan beban “generasi sandwich” yang harus menanggung kebutuhan finansial keluarga, sebuah realitas yang juga ia alami sendiri dalam kehidupan nyata.
Dan sempat menceritakan masa-masa sulitnya secara finansial, terutama saat pandemi, yang membantunya mendalami perasaan putus asa dan tekanan ekonomi yang dialami tokoh Kartono di film tersebut. Sebagai komedian sekaligus aktor, Fajar juga melakukan improvisasi karakter untuk memperkuat adegan dalam film horor komedi tersebut.
Melalui film ini, Fajar ingin meyakinkan penonton bahwa Warung Pocong bukan sekadar film horor biasa, melainkan sebuah karya yang menawarkan komedi segar sekaligus mengangkat isu-isu sosial yang nyata di masyarakat.(Yd)***






