BisnisMetro,TANGERANG SELATAN- Sore itu, Siti baru saja mengangkat jemuran di halaman rumahnya di Rawa Mekar Jaya, Ciater, Serpong, Senin (16/02/2026).
Angin bertiup pelan, membawa sesuatu yang awalnya ia kira hanya debu biasa. Namun dalam beberapa menit, kain-kain yang sudah kering kembali dipenuhi butiran putih halus.
Ia mendongak ke atas. Langit tidak gelap, tapi pandangannya seperti tertutup kabut. Bukan kabut hujan, melainkan debu pekat.
“Pak, coba lihat ini (debu), saya tanya ke bapaknya,” ucapnya menjelaskan awal kejadian itu.
Seketika suaminya keluar, lalu terdiam. Jalanan di depan rumah yang biasanya ramai kini tampak samar. Beberapa pengendara motor melambatkan laju, sebagian menutup wajah dengan tangan.
Bagi Siti dan keluarganya, yang paling terasa adalah kecemasan. Ia menutup seluruh ventilasi rumah dengan kain basah. Anak bungsunya yang masih duduk di bangku sekolah dasar mengeluh matanya perih.
Anak-anak yang tadi bermain bola di gang kecil berlarian masuk ke rumah masing-masing. Butiran putih itu terus turun dan beterbangan, menempel di dedaunan, pagar, hingga kaca jendela. Bau semen mulai tercium tipis-tipis di udara.
Tak jauh dari permukiman mereka, berdiri pabrik pengolahan semen PT ADHIMIX RMC INDONESIA di sisi pertigaan Traffic Light Rawa Mekar Jaya. Aktivitasnya sudah lama menjadi bagian dari keseharian warga. Namun sore tadi terasa berbeda.
Video kejadian tersebut dengan cepat menyebar di media sosial. Dalam salah satu rekaman yang diunggah akun @wargatangsel, terdengar suara warga yang panik. “Aduh, telah terjadi kebocoran pipa semen,” ucap seorang pria dalam video.
Di sudut lain kawasan Rawa Mekar Jaya,, H. Reza Pahlepi (32),Ketua Organisasi Pemuda Pancasila Ranting Rawa Mekar Jaya PAC Serpong, menerima banyak pesan dan telepon dari warga. Mereka khawatir, sebagian bertanya apakah abu itu berbahaya, sebagian lagi melaporkan jarak pandang di jalan utama semakin terbatas.
“Debunya tebal banget, seperti abu semen. Bertebaran sampai tiga sampai empat kilometer. Semua warga di sini kena dampak,” kata Reza dikonfirmasi terpisah.
Beberapa warga mengaku mendengar suara ledakan seperti ban meletus sesaat sebelum abu menyebar. Namun hingga malam hari, belum ada penjelasan resmi dari pihak pabrik mengenai penyebab pasti kejadian tersebut.
Hujan deras yang turun menjelang petang akhirnya menjadi penolong. Air mengguyur jalanan, atap rumah, dan dedaunan yang memutih. Perlahan, udara kembali jernih.
Namun sisa-sisa abu masih menempel di sudut-sudut rumah. Di halaman, jejak putih itu menjadi penanda bahwa sore tadi bukan kejadian biasa.
Warga kini menunggu penjelasan. Mereka berharap ada kejelasan apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana agar peristiwa serupa tak terulang. Sebab di Ciater, antara deru mesin industri dan napas kehidupan warga, jaraknya hanya sejengkal pagar.(SG)***











