Pasar Asia Diprediksi akan Reli, setelah Terjungkal di 2022

Berita Utama, Ekonomi303 Dilihat

Bisnismetro.id, JAKARTA – Arah pergerakan harga ekuitas Asia diperkirakan akan berbalik, terjungkal selama dua tahun yang suram. Pembukaan kembali ekonomi China dan potensi dolar yang lebih lemah akan mendorong kinerja bursa saham Asia yang lebih baik pada tahun 2023.

Jajak pendapat 11 ahli strategi Bloomberg memperkirakan, aham regional bisa naik 9% hingga akhir tahun depan. Sebagian besar hal negatif yang membebani Asia – mulai dari lonjakan dolar, penguncian Covid China, dan siklus penurunan chip – mulai memudar, mengarah ke prospek laba yang lebih baik.

“Ekuitas Asia akan menjadi salah satu dari beberapa titik balik yang kemungkinan terjadi,” kata Frank Benzimra, kepala strategi ekuitas Asia di Societe Generale SA. Ia menambahkan dengan memperkirakan rebound laba akan terjadi mulai kuartal kedua tahun depan.

Indeks MSCI Asia Pasifik tidak termasuk Jepang telah merosot 19% sejauh 2022 ini, menyusul penurunan 4,9% pada tahun 2021, berkinerja lebih buruk dibandingkan bursa saham global. Investor asing telah menarik lebih dari USD50 miliar dari emerging market (EM) di luar China tahun ini.

Meskipun tidak ada peserta survei yang memprediksi bursa saham Asia akan turun tahun depan, ada perluasan perkiraan – dari return yang mendatar datar hingga melesat 15% – yang menekankan akan kehati-hatian terhadap risiko resesi global dan pembukaan kembali China yang sulit.

Meskipun indeks regional dapat mengalahkan Indeks S&P 500, menurut survei ahli strategi, namun mereka akan gagal pulih hingga ke puncak 2021, bahkan jika perkiraan paling bullish menjadi kenyataan.

Jajak pendapat manajer investasi Asia oleh Bank of America, Desember ini, juga menunjukkan sekitar 90% responden mengantisipasi kenaikan saham Asia di luar Jepang.

“Kami pikir Asia bisa unggul pada tahun 2023,” tulis Dan Fineman, co-head of Asia Pacific equity strategy di Credit Suisse Group AG, dalam catatannya bulan ini. “Investor global akan mengalihkan dananya dari AS ke Asia karena top-line yang tangguh, margin dan siklus laba yang lebih unggul, dolar yang lebih lemah, dan perubahan positif pada revisi EPS,” imbuhnya seperti idkutip Bloomberg, Senin (19/12).

Dalam pembalikan tren tahun ini, menurut Tina Teng di CMC Markets, China akan kembali “dapat diinvestasikan”, membantu mendorong kinerja Asia Utara yang lebih baik dibandingkan Asia Selatan.

Korea Selatan – dan juga Taiwan dengan tingkatan yang lebih rendah – muncul sebagai favorit karena terlihat mendapat manfaat dari peningkatan siklus inventaris perangkat keras teknologi. Allianz SE, Morgan Stanley dan Goldman Sachs Group Inc. termasuk di antara broker yang merekomendasikan pasar tersebut.

“Saat pertumbuhan mencapai titik terendah, posisi yang lebih cyclical seperti Korea dan Taiwan akan masuk akal,” kata Christian Abuide, kepala alokasi aset di Lombard Odier. “Valuasinya juga menarik.”

Performanya akan lebih suram untuk pasar di selatan. Valuasi India yang relatif lebih tinggi setelah memecahkan rekor dapat membuatnya berkinerja buruk, meskipun kenaikan tajam dalam ekuitas Indonesia mengalami kegagalan pada Desember ini.

Hal utama yang perlu diperhatikan adalah pasar yang cenderung bullish menjelang tahun baru. Prediksi untuk tahun 2022 juga optimis, karena gembar-gembor sejumlah analis Wall Street yang merekomendasikan pembelian saham China, hanya sedikit bertambah karena kekalahan besar.

Tantangan berlimpah untuk tahun depan terlepas dari semua optimisme, dengan kekhawatiran tentang timing dan sejauh mana pembukaan kembali China menjadi kekhawatiran utama.

Juga akan ada banyak risiko global dengan investor yang mengamati potensi kesalahan kebijakan oleh Federal Reserve, dan berlanjutnya gangguan pasokan pertanian akibat perang di Ukraina.

” Black swan in the room adalah risiko The Fed yang ‘melambat lagi’, tetapi kali ini dalam pemotongan suku bunga,” kata Havard Chi, kepala penelitian di firma aktivis Quarz Capital Asia Singapore Pte. Namun secara umum, dia mengkau bullish pada ekuitas Asia dan memprediksi MSCI Asia Pacific Index bisa naik 10-15% pada akhir 2023, didorong oleh peningkatan valuasi dan laba. (Bloomberg).(***)

Sumber: Ipodnews