BisnisMetro,TANGERANG SELATAN- Suasana di kawasan perumahan Bukit Nusa Indah, tepatnya di wilayah RW 16, Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, kian memanas. Di tengah bentangan spanduk dan banner penolakan warga terhadap rencana pembangunan SMPN 25 Tangerang Selatan, sebuah pemandangan yang memprihatinkan sekaligus membahayakan terpampang nyata di area lahan pembongkaran gedung yang diklaim sebagai aset daerah.
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa aktivitas pembongkaran gedung eksisting yang sebelumnya terlihat masif kini tampak terhenti. Alat berat maupun truk-truk pengangkut puing yang lalu-lalang beberapa waktu lalu sudah tidak tampak lagi di tempat. Lahan tersebut kini berubah menjadi lapangan puing yang sunyi.
Namun, ada satu hal krusial yang luput dari perhatian atau sengaja dibiarkan oleh pihak pelaksana proyek: instalasi kelistrikan.
Kabel-kabel kelistrikan bertegangan tinggi terlihat menjuntai bebas tanpa pengamanan standar. Kabel tersebut tampak hanya disangga seadanya menggunakan sebatang kayu, lalu menjulur ke bawah hingga tersambung pada sebuah meteran listrik token. Lebih parahnya lagi, perangkat meteran listrik tersebut diduga sengaja digeletakkan begitu saja di atas permukaan tanah.
Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam bagi warga sekitar. Pasalnya, di sekitar area terbuka yang tidak berpagar pengaman tersebut, terlihat sejumlah anak-anak kecil asyik bermain berlarian. Tanpa adanya pembatas atau tanda peringatan, keberadaan meteran dan kabel menjuntai ini menjelma menjadi “jebakan maut” yang mengancam keselamatan jiwa, terutama risiko tersengat arus listrik (kesetrum).
“Pembongkarannya terindikasi belum rampung betul, tapi alat-alat berat sudah ditarik. Yang bikin ngeri, itu kabel sama meteran listriknya digeletakan di tanah dekat tempat anak-anak main. Kalau ada anak pegang bagaimana?” ujar salah seorang warga sekitar dengan nada cemas, kemarin (9/8/2026)
Situasi di lokasi kian kompleks dengan berkibarnya banner protes dari warga RT03 RW 16. Penolakan warga terhadap proyek SMPN 25 ini bukan tanpa alasan; selain kekhawatiran terhadap amburadulnya manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di proyek tersebut, warga sejak awal menyoroti ketidaksiapan infrastruktur jalan lingkungan serta minimnya sosialisasi dari pemerintah kota.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kontraktor pelaksana maupun dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang Selatan terkait ditinggalkannya instalasi listrik yang membahayakan nyawa warga dan anak-anak di area fasilitas umum tersebut. Warga mendesak instansi berwenang segera turun tangan menertibkan kabel terbuka itu sebelum jatuh korban jiwa.(SG)***






