Urgensi Dampak Literasi Keuangan Digital terhadap Perkembangan Ekonomi 

Berita Utama, Ekonomi276 Dilihat

Bisnismetro.id, JAKARTA – Literasi keuangan dianggap menjadi hal yang yang urgen bagi perekonomian bangsa dan negara. Pasalnya, persoalan literasi adalah persoalan global.

Demikian disampaikan anggota Komisi I DPR RI, Hasbi Anshory, saat menjadi narasumber dalam Webinar Ngobrol Bareng Legislator dengan tema “Dampak Literasi Keuangan Digital terhadap Perkembangan Ekonomi” yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo bekerja sama dengan Komisi I DPR RI, Selasa (21/2/2023).

Hasbi memaparkan, ada empat hal dalam urgensi sektor keuangan yang baik bagi perekonomian yaitu mengurangi risiko, memobilisasi tabungan, menurunkan biaya transaksi dan informasi, serta mendorong spesialisasi

“Sektor keuangan melalui peran tersebut, mampu menghasilkan akumulasi pada modal dan inovasi pada teknologi untuk meningkatkan perekonomian,” kata Hasbi.

Menurut laporan Financial Literacy Around the World Insights From the Standard and Poor’s Rating Service Global Financial Literacy, kata Hasbi, di survei di seluruh dunia hanya 1 dari 3 orang dewasa yang menunjukkan pemahaman konsep keuangan dasar.

“Meskipun literasi keuangan lebih tinggi di antara orang kaya, berpendidikan tinggi, dan mereka yang menggunakan jasa pemahaman, jelas bahwa miliaran orang tidak siap menghadapi perubahan cepat dalam lanskap keuangan,” ujarnya.

Ia menyebut, perkembangan teknologi finansial membuat akses terhadap keuangan makin mudah. Akan tetapi, literasi keuangan nasional dan global belum memadai.

“Ada peningkatan tetapi masih dibutuhkan kerja keras secara kolektif agar literasi dan inklusi keuangan membuat perekonomian bangsa dan negara bergerak menuju kesejahteraan dan kemajuan. Minimal dimulai dengan kemampuan membedakan mana kebutuhan dan keinginan,” ucapnya.

Narasumber lainnya, akademisi Universitas Jambi, Wiralestari, mengatakan, literasi keuangan adalah pengetahuan, keterampilan, keyakinan yang memengaruhi sikap dan perilaku keuangan seseorang untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan dalam rangka mencapai kesejahteraan.

“Dengan tujuan untuk menciptakan pengambilan keputusan ekonomi yang lebih baik melalui warga negara yang memiliki informasi dan pengetahuan yang memadai, untuk memperbaiki kesejahteraan rumah tangga, dan meningkatkan literasi seseorang yang sebelumnya less literate atau non literary menjadi well literate dan meningkatkan jumlah produk dan jasa keuangan,” kata Wiralestari.

Ia menyebut, dampak terhadap perekonomian di Indonesia antara lain adalah peningkatan pengelolaan keuangan secara individu, mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi beban keuangan negara, dan meningkatkan akses layanan keuangan.

Sementara, Kepala Pusat Studi Hukum Ekonomi, Satria Adi Putra, mengatakan, perdagangan semakin hari semakin kompleks karena beberapa faktor. Faktor pertama, menurut dia, adalah kompetisi di mana setiap aktor akan berusaha dan bersaing agar produknya unggul dan berhasil dalam perdagangan, dan selera pasar berkembang seiring dengan perkembangan zaman.

Ia melanjutkan, fluktuasi dan kondisi lingkungan almaniah turut memengaruhi keadaan perekonomian wilayah sehingga menjadi persaingan harga. Kedua adalah coverage area yang terdiri dari share market dan daya jangkau antara produsen, konsumen dan distributor kian hari kian luas, sehingga butuh cara agar ketersediaan bahan baku dan wilayah pemasaran dapat terpenuhi setiap saat.

“Ketiga adalah instrumen yang dibutuhkan cara dan alat transaksi untuk mendukung kecepatan dan percepatan transaksi. Dengan seiring dengan perkembangan intelektual manusia di mana setiap hari akan dipikirkan bagaimana cara yang lebih mudah dari sebelumnya,” kata Satria.

“Faktor keempat adalah behavior di mana perilaku konsumen semakin hari semakin manja dan menuntut kemudahan, produsen dan distributor senantiasa berusaha mencari cara agar konsumen terpuaskan, dan diformulasikan cara cara baru yang disebut konsep marketing dan public relation,” tandasnya.(***)