Gema Takbir dan Esensi Pengorbanan: Warga Puri Bintaro Indah Gelar Shalat Idul Adha 1447 H di Masjid Al-Ikhlas

BisnisMetro,TANGERANG SELATAN- Fajar menyingsing di ufuk timur, membawa sinar matahari pagi yang hangat pada Rabu, 27 Mei 2026. Seiring langkah kaki yang berduyun-duyun, umat Muslim di Perumahan Puri Bintaro Indah RW 022, Kelurahan Jomblang, Ciputat, Tangerang Selatan, bergegas menuju Masjid Al-Ikhlas untuk menunaikan ibadah Shalat Idul Adha 1447 H.

Sebelum shalat berjamaah dimulai, suasana khidmat menyelimuti masjid saat panitia DKM Masjid Al-Ikhlas mengumandangkan tahlil dan tahmid sebagai bentuk rasa syukur. Perwakilan panitia kemudian menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H sekaligus membacakan laporan penerimaan hewan qurban.

Hingga hari pelaksanaan, panitia tercatat menerima: 1 ekor kerbau, 5 ekor sapi,35 ekor kambing

Panitia juga membacakan secara rinci nama-nama keluarga yang telah memercayakan dan menyerahkan hewan qurbannya untuk dikelola oleh pihak DKM.

Dipimpin oleh Ustadz Nurdin H selaku imam, shalat jamaah berlangsung khusyuk dan dilanjutkan dengan penyampaian khutbah Idul Adha. Dalam khutbahnya, khatib menekankan pentingnya rasa syukur atas kekuasaan Allah SWT yang telah menggerakkan hati kaum Muslimin untuk saling membantu dan menolong dalam membela agama Islam.

Khatib turut mengutip firman Allah SWT mengenai kuasa-Nya dalam menyatukan hati manusia, yang menegaskan bahwa sekaya apa pun harta di bumi tidak akan mampu menyatukan hati tanpa kehendak-Nya yang Maha Dekat lagi Maha Bijaksana.

“Persatuan saja belum cukup untuk mencapai cita-cita kemuliaan Islam dan kaum Muslimin,” ujar khatib di atas mimbar. Beliau menambahkan bahwa persatuan harus diiringi dengan pengorbanan yang nyata di jalan Allah SWT.

Lebih lanjut, khatib menjabarkan bahwa puncak keimanan seorang Muslim meliputi empat perkara utama: Sabar terhadap hukum-hukum Allah, ridho atas segala ketentuan-Nya, tulus ikhlas karena bertawakal kepada-Nya, penyerahan diri secara total semata-mata kepada Allah SWT.

Sebagai penutup, jamaah diajak untuk merenungkan kembali kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Kisah tersebut menjadi simbol ketundukan tertinggi, di mana Nabi Ismail dengan penuh keikhlasan menerima perintah Allah SWT demi ketaatan seorang hamba kepada Sang Pencipta.(SG)***

Berita Lainnya