BisnisMetro,TANGERANG SELATAN- Pemandangan di Jalan Merpati Raya, Ciputat pada April 2026 ini tampak berbeda dibanding hiruk-pikuk proyek serupa pada Februari lalu. Jika sebelumnya alat berat dan tumpukan tanah menghiasi bahu jalan, kini proyek instalasi pipa air milik PT Pembangunan Investasi Tangerang Selatan (PITS) beralih ke metode yang lebih ‘senyap’ namun memicu tanda tanya besar terkait standar keselamatan kerja.
Berdasarkan pantauan di lokasi, pengerjaan kini lebih banyak mengandalkan tenaga manusia dengan teknik yang tergolong nekat, diantaranya bagian bawah saluran u-ditch kini dibobok paksa menggunakan godam dan alat bor (drill) manual, lalu di saat petang hingga malam harinya, tanpa penerangan yang baik atau hanya mengandalkan sinar lilin,pekerja melakukan pengeboran miring secara manual demi menanam pipa di bawah struktur drainase yang sudah ada.
Kemudian, tidak ada lagi gundukan tanah di tepi aspal; material sisa galian langsung dimasukkan ke dalam karung, selanjutnya truk pengangkut kini parkir menjauh dari badan jalan, sebuah upaya yang terlihat kontras dengan kondisi Februari 2026 yang sempat dikeluhkan warga karena memicu kemacetan parah.
Meski area jalan terlihat lebih rapi karena minimnya material yang berserakan, aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) justru tampak terjun bebas. Para pekerja di lapangan terlihat bertaruh nyawa tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti helm, sepatu safety, maupun rompi pantul.
“Kerjanya memang lebih rapi dibanding Februari kemarin yang tanahnya berantakan ke mana-mana. Tapi ngeri juga lihat mereka ngebobok beton cuma pakai godam tanpa pengaman sama sekali,” ujar Lutfi salah satu warga yang memang dekat dengan titik proyek ini, Rabu (22/4/2026).
Pada Februari 2026, PT PITS sempat menjadi sorotan tajam hingga disidak oleh Komisi IV DPRD Tangsel karena pengerjaan yang semrawut, merusak trotoar, dan membiarkan lubang galian terbuka tanpa tanda peringatan. Kini, meski gangguan lalu lintas berhasil ditekan dengan sistem parkir di luar badan jalan, praktik ‘bobok manual’ ini dikhawatirkan dapat merusak integritas struktur saluran drainase dalam jangka panjang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana terkait alasan peralihan metode kerja menjadi manual sepenuhnya dan pengabaian standar APD di lokasi proyek Jalan Merpati Raya.(SG)***










