BisnisMetro,TANGERANG SELATAN- Dampak fenomena El Nino dan musim kemarau ekstrem mulai dirasakan warga. Wakil Walikota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, turun langsung memantau kondisi warga di RT02/RW01, Kp Koceak, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, pada hari Rabu (8/7/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan bersamaan dengan kegiatan tanggap darurat yang digelar oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan yang tengah mendistribusikan pasokan air bersih.
Kepala Bidang Kedaruratan Dan Logistik Pada BPBD Kota Tangerang Selatan, Essa Nugraha, menjelaskan bahwa distribusi air ini merupakan respons cepat pemerintah daerah terhadap krisis air bersih yang melanda wilayah setempat.
“Giat yang kami lakukan adalah sebagai respon dari kekeringan yang melanda di Kota Tangerang, khususnya pada hari ini di wilayah ini. Adapun jumlah KK terdampaknya sebanyak 20 KK,” ujar Essa.
Untuk memastikan kebutuhan vital warga sehari-hari terpenuhi, khususnya untuk kebutuhan Mandi Cuci Kakus (MCK), BPBD menyiapkan pasokan rutin yang signifikan.
“Per hari ini sampai dengan kedepannya kita akan suplai terus air bersih. Jumlah per harinya yang rencananya untuk memenuhi 20 KK, akan kita suplai sebanyak 4.000 liter,” tambahnya.
Langkah sigap ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Dalam pengadaan suplai air bersih tersebut, Pemkot Tangsel menjalin kerja sama strategis dengan PDAM Kabupaten Tangerang, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT PITS, serta pengembang swasta yakni BSD City dan Alam Sutera.
Meskipun saat ini laporan kekurangan air baru masuk dari Kelurahan Keranggan saja, pemerintah tidak tinggal diam. Masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap potensi kekeringan yang lebih luas. Berdasarkan prediksi dari BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi 30 tahun terakhir di Indonesia.
“Iya saat ini baru Kelurahan Keranggan saja laporannya yang masuk ke kita. Namun demikian berdasarkan BMKG diperkirakan musim kemarau kali ini akan lebih panjang dibanding kemarau tahun sebelumnya, karena keringnya cukup kering, lebih kering dari 30 tahun yang sudah pernah dialami oleh Indonesia,” pungkas Essa.(SG)***












