Mengenang Hj. Mutholiah, ‘Kartini Desa’ dari Kaki Gunung Slamet yang Mengabdi Tanpa Batas

BisnisMetro,TANGERANG SELATAN- Kabar duka datang dari dunia pendidikan pelosok. Hj. Mutholiah, seorang tokoh pendidik yang dijuluki masyarakat sebagai “Kartini Desa”, dikabarkan meninggal dunia pada Selasa (6/10). Kepergian sosok yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk pendidikan anak-anak di kaki Gunung Slamet ini meninggalkan duka mendalam bagi ratusan mantan muridnya, termasuk seorang penulis asal Kota Tangerang Selatan, Mas Muh, yang membagikan kisah inspiratif ini kepada media.

Bagi sebagian orang, menjadi guru mungkin hanya sebuah pekerjaan. Namun bagi Bu Mut—sapaan akrabnya—mengajar adalah bentuk pengabdian tertinggi. Ia memilih jalan hidup yang sederhana namun berdampak luar biasa: memastikan anak-anak desa tempat ia dilahirkan memiliki kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.

Hj. Mutholiah lahir di Tegal pada Agustus 1966, dari pasangan KH. Abdul Bari dan Ibu Sairah. Sebagai anak kedua dari sembilan bersaudara, ia tumbuh di Kebagusan, Desa Danasari, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal—sebuah wilayah yang pada masa kecilnya masih jauh dari kemudahan fasilitas perkotaan.

Di tengah kultur tradisional-religius yang kuat, Bu Mut menyaksikan sendiri bagaimana pendidikan bukan sesuatu yang mudah dijangkau oleh semua anak desa. Sebagian besar orang tua di sana berjuang keras bertani atau merantau ke Jakarta demi menyambung hidup.

Pada masa itu, keterbatasan ekonomi memaksa banyak keluarga bertindak realistis. Anak perempuan setelah lulus Sekolah Dasar (SD) biasanya langsung bekerja membantu keluarga atau menjadi pembantu, sementara anak laki-laki pergi merantau.

Berasal dari keluarga yang relatif berkecukupan, Bu Mut beruntung bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Namun, alih-alih menggunakan ilmu tersebut untuk mencari kemapanan di kota besar, ia justru mengambil keputusan yang tidak biasa pada zamannya: ia memilih pulang dan mengabdi di kampung halaman.

Aktivitas Bu Mut nyaris tidak pernah berhenti demi mencerdaskan generasi muda di desanya:

Pagi hari, mengajar di Madrasah Tsanawiyah (MTs). Siang, mengajar di Madrasah Diniyah. Dan, malam harinya membuka rumahnya untuk mengajar mengaji Al-Qur’an.

Tanpa sorotan kamera atau panggung penghargaan, Bu Mut setia menemani anak-anak desa yang datang membawa buku dan harapan. Ia percaya bahwa jika anak desa mendapatkan pendidikan, mereka akan memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan masa depan.

Pengabdian Bu Mut tidak mandek di dalam ruang kelas. Ia juga dikenal sebagai perempuan yang aktif dalam organisasi kemasyarakatan, seperti Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dan Fatayat NU. Di tengah masyarakat yang masih kental adat-istiadatnya, kehadiran perempuan muda yang aktif berorganisasi menjadi inspirasi dan pemantik gerak bagi perempuan lain di desanya.

Waktu akhirnya membuktikan buah dari kesabaran Bu Mut. Anak-anak kecil yang dulu dididiknya kini telah tumbuh dewasa. Banyak di antara mereka yang berhasil memutus rantai kemiskinan dan sukses menjadi sarjana.

Hebatnya, Bu Mut selalu mengingat nama dan masa kecil mantan murid-muridnya satu per satu saat bertemu kembali di kemudian hari. Ia mungkin tidak membangun gedung sekolah yang megah, namun ia telah menyalakan lilin harapan di tengah kegelapan.

Julukan “Kartini Desa” terasa sangat melekat pada dirinya. Ia adalah representasi perempuan desa yang mendapatkan kesempatan pendidikan, lalu menggunakan kesempatan itu untuk membuka jalan bagi orang lain.

Kisah hidup Hj. Mutholiah mengajarkan kita satu hal: perubahan besar tidak selalu dimulai dari kota besar. Kadang, ia dimulai dari ketulusan seorang guru di desa kecil yang dengan sabar mengajarkan anak-anak untuk berani bermimpi. Kini sang pelita telah berpulang, namun cahaya ilmu yang ia tebarkan akan terus hidup dan mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.

PROFIL SINGKAT

• Nama Lengkap: Hj. Mutholiah (Bu Mut)

• Tempat, Lahir: Tegal, Agustus 1966

• Wafat: Oktober 2026

• Orang Tua: KH. Abdul Bari & Ibu Sairah

• Suami: Abdul Ghofur

• Anak: 2 orang (putra dan putri)

• Asal Dedikasi: Kebagusan, Desa Danasari, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal

• Fokus Gerakan: Pendidikan, pengajaran agama, sosial kemasyarakatan (IPPNU & Fatayat. (SG)***