BisnisMetro,TANGERANG SELATAN- Sekolah negeri yang seharusnya menjadi ruang setara bagi semua anak tanpa memandang kasta sosial, kini dipertanyakan. Di SMP Negeri 7 Tangerang Selatan, muncul sekat pembatas yang nyata lewat program bernama “Kelas Bina Prestasi” atau kelas pengayaan.
Bagi siswa yang orang tuanya mampu merogoh kocek Rp750 ribu untuk uang masuk dan Rp300 ribu per bulan, pintu kelas khusus ini terbuka lebar. Di dalamnya, fasilitas lebih lengkap dan bimbingan materi tambahan selama tiga hari dalam seminggu siap menunjang prestasi mereka hingga pukul tiga sore.
Namun bagi siswa kurang mampu, mereka harus puas bertahan di kelas reguler. Mereka dipaksa meratapi kesenjangan fasilitas, meskipun memiliki semangat belajar dan potensi kecerdasan yang sama dengan rekan-rekannya di kelas sebelah.
Potret ini memicu polemik. Dari hitungan kasar, jika tiga kelas pengayaan angkatan 2026 masing-masing diisi 40 siswa, ada perputaran uang hingga hampir seratus juta rupiah yang ditarik dari orang tua murid. Ironisnya, dasar penarikan dana dan transparansi pengelolaannya masih menjadi misteri yang belum terjawab.
YN (46), salah seorang wali murid kelas reguler, tidak menyembunyikan kekecewaannya. Ia merasa sistem ini membuat label “pintar” hanya bisa dibeli oleh mereka yang punya uang. Beban psikologis kini membayangi para siswa yang mulai memahami bahwa kualitas pendidikan yang mereka terima di sekolah negeri ternyata diukur dari isi dompet orang tua.
Praktik ini menabrak semangat UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Perda Kota Tangsel Nomor 20 Tahun 2020 yang menjamin pendidikan bermutu secara berkeadilan dan tanpa diskriminasi.
Publik kini menunggu ketegasan Dinas Pendidikan setempat: apakah kelas ini murni program mutu, atau komersialisasi terselubung di fasilitas milik negara?(SG)***






