Dibalik Kejar Target Proyek Pedestrian Rp13 Miliar Serpong: Kabar Burung Kecelakaan Kerja Itu Akhirnya Terungkap

BisnisMetro,TANGERANG SELATAN- Di balik gemerlap lampu dan deru alat berat proyek pedestrian Jalan Raya Serpong yang dikebut siang-malam, tersimpan sebuah cerita pilu yang sempat ditutupi kabut misteri.

Kabar burung mengenai adanya kecelakaan kerja di proyek yang berhubungan dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Banten sebenarnya sudah berembus di kalangan jurnalis sejak beberapa hari lalu. Namun, informasi awal sangat minim tanpa lokasi dan nama proyek yang jelas. Indikasi kuat hanya mengarah ke wilayah Kecamatan Serpong Utara.

Rasa penasaran tersebut mendorong sejumlah wartawan melakukan penelusuran mendalam (pulbalked) pada Kamis (20/8/2026) malam. Investigasi lapangan difokuskan pada proyek pedestrian dan drainase senilai Rp13,1 miliar di wilayah Kelurahan Pakualam, Serpong Utara.

Petunjuk terang akhirnya terkuak di lokasi. Beberapa pekerja dan pengawas pelaksana yang berada di lapangan mengonfirmasi bahwa desas-desus kecelakaan kerja tersebut memang benar adanya.

“Korban tidak meninggal dunia,” ujar salah seorang pekerja proyek kepada wartawan di lokasi, Kamis (20/8/2026) malam.

Pekerja tersebut menceritakan kronologi kejadian yang menimpa rekannya bernama Udin sekitar dua minggu lalu. Saat itu, korban sedang berada di dalam lubang galian untuk memasang saluran beton (u-ditch) berukuran diameter 80x100x120 cm.

“Dia lagi di bawah, sedang mengupas tanah di bawah batu. Tiba-tiba tanah longsor dan dia tertimpa batu kali di bagian kaki,” tambahnya.

Pascakejadian, Pak Udin langsung dilarikan ke RSUD Serpong Utara yang terletak tepat di sebelah Kantor Kelurahan Pakualam untuk mendapatkan penanganan medis darurat.

Namun, kelanjutan nasib pekerja malang ini menyisakan tanya. Menurut sumber pekerja di lokasi, operasi medis akibat kecelakaan kerja tersebut diperkirakan membutuhkan biaya hingga Rp30 juta. Diduga karena kendala biaya dan tidak adanya pihak keluarga yang menjaga atau merawatnya selama di rumah sakit, Pak Udin akhirnya dibawa pulang.

“Akhirnya dijemput oleh keluarganya dari Cirebon, Jawa Barat. Dibawa pulang untuk berobat jalan saja, entah terapi atau alternatif patah tulang,” ungkap pekerja tersebut.

Dikonfirmasi terpisah di lokasi yang sama, perwakilan pelaksana PT Rajawali Aries Kreasindo (RAK) dari Satker Dinas PU Provinsi Banten membenarkan informasi kepulangan pekerja tersebut. Pihak manajemen mengamini bahwa korban telah dijemput oleh pihak keluarga untuk menjalani pemulihan di kampung halamannya di Cirebon.

Informasi ini menjadi kontras yang tajam. Mengingat dalam pemberitaan sebelumnya yang berjudul “Kejar Target 175 Hari, Proyek Pedestrian dan Drainase Jalan Raya Serpong Senilai Rp13 Miliar Terus Dikebut Malam Hari”, pihak kontraktor sempat menyatakan bahwa mereka menerapkan pengawasan keselamatan yang sangat ketat dan briefing rutin dua kali sehari demi menjaga keselamatan 25 pekerja di lapangan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi lebih lanjut dari PT Rajawali Aries Kreasindo maupun Dinas PU Provinsi Banten terkait pemenuhan hak kompensasi, jaminan BPJS Ketenagakerjaan, ataupun bantuan biaya pengobatan menyeluruh bagi Pak Udin yang kini harus menahan sakit di kampung halamannya.(SG)***