Dinsos Tangsel Verifikasi Data Disabilitas di Jombang, Sadelih Berharap Uluran Tangan untuk Bertahan Hidup

BisnisMetro,TANGERANG SELATAN- Dinas Sosial (Dinsos) Kota Tangerang Selatan bergerak cepat memastikan bantuan sosial tepat sasaran. Pada Rabu (15/7/2026), petugas Dinsos didampingi pegawai Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, turun langsung ke lapangan untuk melakukan verifikasi dan validasi data warga penyandang disabilitas.

Pegawai Dinsos Kota Tangsel, Gufron Sahdewa menyatakan bahwa proses pendataan langsung ini menyasar lima Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di sejumlah RT dan RW di wilayah Kelurahan Jombang.

“Alhamdulillah, kami tadi telah mendata langsung di antaranya ada sekira 5 KK. Kami mengecek kelayakan dan kebenaran data yang sebelumnya sudah masuk dari kelurahan setempat,” ujar Gufron kepada wartawan di lokasi peninjauan kelima, Rabu (15/7).

Titik terakhir yang dikunjungi petugas adalah kediaman Sadelih, seorang warga paruh baya penyandang disabilitas yang beralamat di Kp. Rawalele RT 01/RW 10, Jombang, Ciputat. Sadelih kehilangan kedua kakinya akibat kecelakaan tragis di peron stasiun Jakarta Selatan sekitar sepuluh tahun lalu.

Gufron menegaskan, hasil verifikasi lapangan ini akan segera dilaporkan kepada pimpinan Dinsos Tangsel untuk menentukan bentuk bantuan yang akan disalurkan.

Nantinya akan kami laporkan pada pimpinan. Apa saja yang akan diberikan, itu berada pada kebijakan pimpinan. Mudah-mudahan Bapak Sadelih nantinya bisa kita berikan bantuan dalam bentuk sembako. Semoga berkah dan menambah semangat, bahwa Pemkot Tangsel melalui Dinsos hadir untuk teman-teman disabilitas,” tambah Gufron.

Di atas kursi roda yang kondisinya sudah tampak rusak dan usang, Sadelih tak mampu membendung rasa syukur dan terima kasihnya atas kunjungan pihak Pemkot Tangsel.

Kepada media, ia mengenang kembali peristiwa kelam sepuluh tahun silam yang mengubah total jalan hidupnya. Saat itu, ia terjatuh dan terperosok ketika hendak turun dari kereta api. “Saat itu kaki keduanya kelindes cuman satu gerbong doang, kreg gitu,” kenang Sadelih dengan nada getir.

Kini, untuk menyambung hidup sehari-hari, Sadelih hanya mengandalkan usaha dagang nasi uduk kecil-kecilan. Kondisinya kian pelik lantaran tempat tinggalnya kini berada di dalam kampung yang seolah “terpencil” dan terpisah dari akses utama, akibat dampak pembangunan jalan tol Parigi-Serpong beberapa tahun lalu.

Melalui momentum pendataan ini, Sadelih menaruh harapan besar kepada pemerintah agar sudi meringankan beban hidupnya.

“Saya berharap ada bantuan demi makan dan kehidupan sehari-hari,” pungkas Sadelih penuh harap.(Red)***