Tahun Depan Ekonomi Global Diprediksi Gelap, Kemendag: Peluang Ekspor

Berita Utama, Ekonomi252 Dilihat

Bisnismetro.id, JAKARTA – Kementerian Perdagangan menilai ekonomi global yang diprediksi gelap tahun depan justru merupakan tantangan positif bagi Indonesia. Sebab, situasi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk menggenjot ekspor.

“Di samping gelap, suatu opportunity. Itu peluang kita buat ekspor,” ujar Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Veri Anggrijononya saat ditemui di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang pada Rabu, 19 Oktober 2022.

Ia menjelaskan bila terjadi resesi pada 2023, Indonesia dapat menyasar ekspor ke pasar negara-negara baru, khusus yang tidak masuk ke dalam daftar negara terancam resesi menurut Indonesia Monetary Fund (IMF). “Negara-negara yang berpenduduk besar dan mempunyai kemampuan finansial,” kata Veri.

Adapun Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengatakan pemerintah ke depan harus lebih menyasar pasar ekspor non-tradisional, yakni India, Pakistan, Bangladesh, Afrika, Asia Selatan, Asia tengah, Afrika.

Di samping itu, Zulkifli mengatakan pemerintah kini berkewajiban meningkatkan ekspor dalam rangka menjaga surplus perdagangan. Selain memperluas pasar ekspor, Kemendag juga akan mendorong bisnis para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Karena, kata Veri, UMKM terbukti banyak menopang kinerja ekspor pada masa pandemi Covid-19.

Nilai ekspor pada September 2022 ini memang telah turun sebanyak 10,99 persen dibanding Agustus 2022 (MoM) menjadi US$ 24,80 miliar. Menurut Zulkifli, penurunan nilai ekspor disebabkan turunnya permintaan dan harga komoditas di pasar global. “Ditambah turunnya ekspor produk unggulan Indonesia,” ujarnya.

Ia menyebutkan beberapa produk utama ekspor nonmigas yang mengalami kontraksi pada September 2022 dibanding Agustus 2022 (MoM), antara lain lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) turun 31,91 persen; serta tembaga dan barang daripadanya (HS 74) turun 31,05 persen.

Lalu kontraksi terjadi pada produk ekspor pakaian dan aksesorinya atau rajutan (HS 61) turun 30,75 persen; timah dan barang daripadanya (HS 80) turun 25,33 persen; serta pakaian dan aksesorisnya atau bukan rajutan (HS 62) turun 18,18 persen.

Sedangkan selama periode Januari hingga September 2022, total nilai ekspor tercatat mencapai US$ 219,35 miliar atau meningkat sebesar 33,49 persen dibanding periode tahun sebelumnya (YoY).

Peningkatan ekspor tersebut didorong oleh penguatan ekspor sektor nonmigas yang naik sebesar 33,21 persen YoY menjadi US$ 207,19 miliar. Ditambah ekspor sektor migas yang naik 38,56 persen YoY menjadi sebesar US$ 12,16 miliar.

“Kementerian Perdagangan optimistis untuk terus mendorong peningkatan ekspor pada tiga bulan terakhir sehingga ekspor nonmigas tahun ini diharapkan dapat mencatat rekor tertinggi,” kata Zulkifli. (***)