Siswi di Tangsel Dihamili Guru hingga Mengandung 6 Bulan, Janin Disuruh Aborsi

Megapolitan2259 Dilihat

Bisnis Metro,TANGERANG SELATAN- Seorang siswi berinisial RW tertunduk lesu saat ditemui di kediamannya, Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), Rabu (07/06/23). Dia mengaku jika kini usia kandungannya telah mencapai 6 bulan.

Saat menceritakan peristiwa yang dialami, siswi tingkat atas salah satu sekolah negeri favorit itu didampingi pula oleh ibunya berinisial RO (46). Wajah korban nampak lemas dan pucat karena pengaruh usia kandungan.

“Sekarang udah 24 minggu, sekitar 6 bulan lebih. Tadi sudah USG juga,” tutur RO.

Pihak keluarga baru mengetahui belakangan ini jika RW tengah berbadan dua. Kecurigaan makin memuncak saat bagian perutnya terlihat mulai membesar. Saat didesak, dia pun akhirnya bercerita siapa pelaku yang menghamili.

Menurut penuturan korban pada keluarga, pelaku merupakan seorang guru di salah satu sekolah negeri berbeda di wilayah Ciputat. Pria itu diketahui berinisial GM dan tinggal di wilayah Gunung Sindur, Bogor, bersama istrinya.

Pada Selasa 6 Juni 2023 malam, pihak keluarga lantas membuat laporan ke Mapolres Tangsel dengan Nomor : TBL/B/1115/VI/2023/SPKT/Polres Tangsel/Polda Metro Jaya. Pelaku diancam dengan Pasal 346 KUHP tentang perbuatan aborsi. 

“Kita sudah laporan ke Polres. Intinya kita tidak terima, karena ini merusak masa depan anak saya, apalagi dia masih sekolah,” ujar sang ibu.

Korban, RW, sempat bercerita awal pertemuan dengan guru cabul tersebut pada November 2022. Keduanya saling kenal dengan perantara seorang guru olah raga di sekolah asal RW. Mereka bertemu saat latihan renang di wilayah BSD.

“Ketemunya waktu ada latihan renang. Jadi dia (GM) itu kan teman dari guru saya di sekolah,” papar siswi malang tersebut.

Usai perkenalan itu, GM mulai melakukan pendekatan hingga pada akhirnya guru bejat tersebut mengajak korban ke suatu apartemen. Di sana GM memerdayai RW dengan mengajaknya berhubungan badan.

“Dia ngakunya masih bujangan segala macem. Saya percaya aja karena merasa dia kan teman dekat dari guru saya di sekolah, nggak mungkin macam-macam. Nggak tahunya dibawa ke apartemen,” imbuhnya.

Tak lama kemudian, korban mulai mengalami gejala muntah-muntah dan pusing. Karena penasaran, dia mencoba tes kehamilan dan hasilnya positif. Perasaan cemas dan takut campur aduk, hingga membuatnya berupaya menutupi kehamilan itu.

“Awalnya saya sering muntah-muntah, saya takut, terus saya coba pakai test pack dan hasilnya positif,” katanya.

Sejak meyakini dirinya hamil, korban berupaya menghubungi GM. Namun bukannya bertanggung jawab, GM justru memberikan korban uang sebesar Rp3 juta untuk biaya aborsi. Setelah itu, GM memblokir akses kontak telepon maupun media sosial korban.
“Habis itu semua kontak saya diblokir semua. Dia waktu itu maksa saya untuk gugurin kandungan, dia ngasih uang Rp3 juta,” jelasnya.

Karena kondisi fisiknya melemah, korban mengaku beberapa kali sempat tak masuk sekolah. Dia pun bingung jika harus menjelaskan kondisi yang dialami ke wali kelas atau guru di sekolah.

“Saya takut nanti malah jadi ramai di sekolah, malu juga kalau cerita-cerita,” ungkap dia.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Sekolah tempat korban belajar, R, mengaku baru mengetahui kasus yang menimpa anak didiknya itu. Dia pun akan segera mengunjungi pihak keluarga RW lebih dulu untuk mencari solusi terbaik.

“Akan kami telusuri, kami cari tahu dulu, nanti akan kami kunjungi ke rumahnya. Kami intinya prihatin ya. Nanti yang pasti akan kami carikan solusi yang bijak,” ucapnya.(sg/bli)